Sepasang suami istri memiliki suatu kesamaan. Mereka seringkali bermimpi, mengigau dan berjalan saat rembulan telah menghiasi malam dan semua manusia sedang dalam peraduan indahnya. Mereka berjalan entah kemana mengikuti rangkulan alam bawah sadar mereka yang sedang mereka geluti.
Hingga pada suatu ketika kedua orang itu di pertemukan secara bersamaan pada suatu tempat yang tak pernah mereka rencanakan, saat mereka sedang berjalan dalam tidur dan mimpi mereka.
“Hai kamu perempuan! Aku mengenalmu! Kau lah yang telah merenggut kebebasan hidup aku!”
“Hai kau lelaki! Jangan sesumbar kau! Kau pun tak lebih baik dari aku. Berkat kau, aku pun kini terpasung oleh mu!”
“Tiada lagi aku dapat memiliki waktu untuk diriku. Segala waktu yang seharusnya kumiliki, tiada lagi dapat seperti dulu. Aku
“Kau pikir aku sangat menikmati sekarang ku? Lelah ku tak berkesudahan. Sosok ku tak lagi elok seindah dulu. Lihatlah diri ini! Semua akibat ulah dari mu yang hanya tahu merasakan kenikmatan dan mendapatkan keturunan.”
“Hei kau! Kau ingin pula mengidamkan agar dapat memiliki yang ada di bawah jantung mu selama 9 bulan itu. Jangan sok merasa menyesal kau. Itu memang sudah takdir mu memberikan segala keelokan tubuh mu kepada buah hati kita.”
“Andai kau tahu betapa tidak mudahnya menjalani segala kodrat ku sebagai seorang perempuan. Tidak ada seujung jarinya garis takdir mu di banding dengan hidup yang ku jalani.”
“Jangan kau kira hanya sosok kau saja yang hebat. Aku harus terus menerus mengurusi dan memikirkan mu tanpa lagi peduli pada diriku. Hanya kau lah kini prioritas ku. Ku enyahkan segala keinginan ku untuk diriku. Aku kadang benci pada diri ku yang berprilaku seperti itu.”
“Itu memang sudah mejadi kewajiban mu untuk mengurusi makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia ini. Kau mempersunting aku di hadapan Nya dengan Dia sebagai saksinya. Jangan kau anggap remeh itu!”
“Sehebat-hebatnya kau mengakui ketegaran dan kemuliaan dirimu. Tetap saja kau membutuhkan aku sebagai pelindung untuk dapat mengayomi dirimu. Usah lah kau merasa congkak seperti itu.”
“Pelindung yang pula seorang penggerutu. Tak ubahnya seperti sebuah lagu indah yang di nyanyikan dengan suara sumbang. Yang seharusnya indah menjadi tak layak di perdengarkan
“Kau bisa berkata seperti sekarang ini. Dahulu kau menikmati segala buai dan bualan yang ku persembahkan untuk dapat merebut hatimu.”
“Memang, dahulu segalanya adalah indah. Namun kini, hanya alunan hidup yang tak lagi mempunyai melodi dan rasa seperti dahulu. Tiada menarik untuk di perdengarkan.”
“Salahkan waktu yang telah merubahmu menjadi seperti sekarang ini. Tanpa bersanding dengan ku. Segala keelokkan dan kemolekkan diri mu tetap lah akan berkurang dan terkikis. Dan kau juga tak dapat memiliki pujaan hati berkat dari diri ku. Apalah artinya kau tanpa ku. Aku tetap mempertahankan nilaimu sebagai perempuan. Karena aku!”
“Tiada lah dapat kau menandingi nilai kemuliaan seorang perempuan. Itu telah di tentukan oleh Nya. Percuma kau pungkiri dan tandingi. Bila ku tanpa mu yang telah beri aku pujaan hati. Aku tetap lah makhluk Tuhan termulia. Tiada Tuhan mempercayakan menaruh ruh calon manusia pada kalian lelaki, karena di nilai tak akan mampu. Dan kalian memang terlahir untuk menjaga dan melindungi kami.”
“Tugas mu melayani hidup dan diriku hai perempuan. Kau di perharuskan melepas segala kenikmatan hidup mu. Kau tiada lagi dapat menaikkan dagumu dan menebar segala pesona mu kepada siapa pun. Aku lah yang telah memiliki semua itu sekarang ini. Kau harus berikan pada hidup ku dan buah hati kita.”
“Kau pun tak jauh beda layak nya budak bagi ku. Segala ingin dan pinta ku haruslah kau turuti. Kau harus peras peluh mu demi apa yang kukatakan bahwa ku ingin. Kalimat ku kadang sebuah sabda bagimu. Turuti kataku, segala pinta ku agar dapat jadi milik ku. Milik ku adalah milik ku dan milik mu adalah milik ku. Kau harus ingat itu!”
“Ya ya ya.. Itulah tugas seorang pemimpin. Bekerja keras demi apa yang memang harus di jaga dan di lindungi nya. Walau pun ia harus mengorbankan diri nya sendiri. Hanya lelaki yang dapat seperti itu! Hanya lelaki! Ingat lah itu wahai perempuan!”
“Seorang pemimpin tak selamanya gagah dan tegar. Di balik kuat nya ia menghadapi hidup. Ia akan tetap membutuhkan sebuah kelembutan untuk merawat diri dan menjaga keteduhan hatinya. Dan itu hanya dapat di berikan oleh seorang perempuan. Hanya perempuan! Ingat lah itu wahai lelaki”
Sekelebat cahaya pagi hari mulai membasuh wajah mereka berdua dan menjadi terjaga karena nya. Dan mereka yang terbangun menjadi terpukau dengan saling melihat diri mereka yang sedang berhadapan. Matahari seperti tahu untuk menghentikan debat mereka di dalam mimpi dan mengembalikan kembali ke alam sadar kehidupan nyata mereka yang sesungguhnya.
“Ehh..? Mamah? Sayang.. Kamu gak papa sayang?” Sang suami berkata lembut pada istrinya.
“Hah? Papa? Enggak kok, gak papa. Kamu sendiri gimana Yang?” Sang istri masih merasa heran.
“Sama kok.. Yuk kita pulang yuk Ma.” Di rangkul nya dengan lembut sang istri, sambil mengajak nya pulang.
Sang istri mengikuti melangkah bersama. “Kamu nanti mau sarapan apa sayang?”
“Terserah Mama aja deh. Papa mah kalo di masak Mama, apa aja pasti suka. Mama
“Huhh! Gombal banget tuh..”
“Aku
“Iya.. Kamu fans aku yang paling rakus!”
“Biarin.. Kamu juga seneng
“Ya pasti seneng lah.. Lagian, apa sih yang enggak buat Papa.”
“Hahahaha.. Sekarang gantian dia yang ngegombal.”
Matahari yang telah sepenuh nya nampak di ujung pinggir timur, mulai menghiasi mereka berdua serta memberi kehangatan yang sedang mereka rasakan. Di sertai kesejukan udara yang tetap menyejukkan hati mereka berdua. Dan mereka telah kembali ke kehidupan nyata yang mungkin lebih indah dari yang pernah mereka impikan.
:)
-Dimar-.
Terinspirasi oleh film ‘Inception’ karya Chistopher Nolan dan sebuah cerita pendek karya Khalil Gibran.

gw suka debat di mimpinya :) nice
BalasHapusmo tanya,jadi mereka tidur dimana yah?kok ada kalimat:
“Sama kok.. Yuk kita pulang yuk Ma.” Di rangkul nya dengan lembut sang istri, sambil mengajak nya pulang.
something twisted?tell me...tell me :)
Kan di awal di blg can, kl mrka itu suka mimpi, ngigau dan berjalan saat mereka tidur. Kbtulan mrka ktmu pas lg jln smbil tidur. Jd pas mrka kbgun stlh debat mimpi mrka, si suami ngajak istrinya pulang. Trm ksh udah baca dan komen. :)
BalasHapus