Malam hari, di sebuah kamar rumah sakit
Suster memasuki kamar 304. Kamar yang bisa di tempati oleh dua pasien itu kini hanya baru terisi oleh satu orang saja. Suster melihat pasien yang ingin di datangi sedang tertidur. Di dekati nya dan berusaha di bangunkan pelan-pelan.
“Mbak Trini... Mbaaak….. Mbak triiiniii….”
Trini yang sedang tertidur terbangun. Pelan-pelan dia berusaha membuka matanya dan mengenali yang membangunkan nya.
“Mmmmmmhh…”
“Mbaaak.. Ini saya, suster Dina.”
“Eeeeehh.. Suster Dina…”
Suster Dina menyambut Trini dengan senyuman saat dia sudah bisa mengenali dirinya.
“Iiiya…
“Sudah jam 7 mbak. Mbak
“Hah…? Oh iya ya…. Sekarang udah jam 7 ya?”
Suster tersenyum melihat Trini yang masih belum terlalu sadar dari bangun nya.
Dengan wajah yang masih mengantuk dan alis yang berkerut, Trini melihat sekeliling nya.
“Suami saya belum datang ya sus?”
“Belum mbak, saya dari tadi belum lihat suami mbak datang.”
Trini terlihat tidak nyaman dengan hadirnya suster dan belum datangnya Dalmy suaminya.
“Bagaimana mbak? Apa bisa kita mulai sekarang?”
Trini makin terlihat merasa tidak nyaman dengan pertanyaan suster Dina.
“Mmmmmm…. Kalau misalnya tunggu sebentar lagi bisa gak sus? Suster lagi banyak pasien yang harus di urus ya?” Trini bertanya sambil berharap.
“Enggak juga sih. Kenapa? Mbak gak takut kan? Kan ini udah yang terakhir mbak.” Suster Dina berusaha menyenangkan Trini.
“Iya ini emang yang terakhir. Tapi bisa sebentar lagi kan sus?”
“Mbak mau tunggu sampai mas nya dateng ya?” Suster Dina tersenyum melihat Trini yang ekspresi panuh harap nya Trini. Dia yang sudah mengerti akan kebiasaan pasien nya.
Sambil tersenyum penuh harap, Trini mengangguk pelan.
“Iya sus.. Bisa gak tunggu sebentar lagi aja?”
“Ya udah, gak papa. Mudah-mudah gak lama ya. sambil nunggu saya cek tekanan darah nya dulu ya.”
“Iya sus.”
Suster Dina mengambil kursi dan mendekatkan pada samping kasur. Dia mulai melakukan cek tekanan darah.
Tak berapa lama.
Tok tok tok..
“Assalam mualaikum..”
“Walaikum salam..” Keduanya menjawab.
Dalmy mengetuk pintu dan langsung masuk kamar menghampiri Trini.
“Eh itu si mas nya udah dateng.”
“Halo suster, maaf ya baru sampe.”
“Halo Mas Dalmy. Itu dari tadi mbak nya udah nungguin. Belum mau di mulai kalo mas nya belum ada.”
“Hai sayang..” Trini menjulurkan tangan kanan nya sambil tersenyum senang.
Dalmy menghampiri Trini di sebelah kanan kasur mengambil tangan Trini, duduk di bangku sebelah kanan kasur dan mendekatkan dirinya pada Trini. Dia pun mencium tangan Trini yang di pegang nya.
“Hai sayang.. Maaf ya aku telat. Kamu udah lama ya nunggu nya?”
“Belum kok, belum lama banget. Kamu kok ngos-ngosan gitu yang?”
“Tadi aku lari takut kamu kelamaan nunggu.”
Melihat Dalmy yang agak berkeringat dan masih mengatur nafas nya. Trini tersenyum senang sambil menatap tajam Dalmy. Dia memegang pipi dan membelai keringat yang ada di dahi Dalmy.
“Kasyian kamu jadi keringetan giyni.”
Dalmy membalas dengan berekspresi sama.
“Gak papa sayang, sekalian olah raga dikit.”
“Bisa di mulai sekarang mbak?” Suster dani berkata pelan memecah kemesraan mereka berdua.
“Mmh? Ooohh.. Boleh sus, mulai aja. Kan tadi saya bilang nya kalau suami saya udah datang.” Trini menjadi sedikit tersadarkan bahwa suster Dina sedang menunggu.
“Saya siapin obat nya sekarang ya.”
“Iya..”
“Kamu siap sayang?” Dalmy mendekatkan kepala nya sambil kembali menatap tajam dan merasa kasihan.
“Kalau udah ada kamu.. Aku siap.” Trini berusaha sangat tersenyum sambil mengangguk, namun tetap terlihat ada rasa takut terpancar di wajah nya.
“Kita baca BISMILLAH ya.”
Trini hanya menganguk saja.
“BISMILLAHI RAHMANI RAHIM….
Mereka berdua membaca surat Al-Fatihah.
“Udah siap nih mbak. Saya mulai sekarang ya.” Selesai mereka berdoa, suster menyatakan siap memulai pengobatan.
“Iya..” Trini tidak mampu lagi berkata banyak. Dia terlihat pasrah, menarik nafas panjang dan mengeluarkan nya.
Suster mulai menekan obat di suntikan tanpa jarum yang sudah di tempel pada salah satu masukan yang ada di selang infus. Dia menekan nya sangat pelan.
Trini mulai terlihat mengernyitkan dahi nya. Dia merasakan sakit karena ada cairan obat di tekan masuk mengalir pada urat nadi nya. Tidak seperti cairan infus yang hanya menetes sangat pelan tiap tetes nya.
Melihat reaksi Trini, Dalmy berusaha memberikan dukungan dengan memegang tangan Trini lebih erat dan usapan di kepala nya yang botak plontos.
Setelah agak lama cairan obat kemoterapi itu habis sudah dalam suntikan itu.
“Sudah selesai mbak.” Suster langsung Dina membereskan perlengkapan nya.
Dengan suara agak lemah dan lirih karena masih berasa sakit, trini terdengar lemah dari suaranya.
“Iya sus, makasih ya.”
“Saya tinggal ya.”
Suster Dina pun meninggalkan kamar.
“Iya.”
“Makasih ya sus.” Dalmy yang terlihat masih merasa kasihan pada Trini berusaha sedikit memberi senyum pada suster.
Sepeninggalan suster Dina, Dalmy melepas tas slempang nya yang sejak tadi masih di pakai nya.
“Aku ganti baju sebentar ya sayang.”
“Iya.”
Selesai ganti baju, Dalmy kembali ke posisi mendekat pada Trini.
“Sudah mulai berasa sakit dan dingin belum sayang?”
“Belum, urat di tangan ku aja yang masih agak sakit.”
Mendengar itu Dalmy mengambil lengan kiri Trini dan mengelus nya pelan-pelan.
“Kamu udah makan sayang?” Dengan suara lemah nya Trini tetap berusaha memberi perhatian pada suami nya.
“Belum, ya udah lah gampang gak usah pikirin aku dulu. Aku nanti bisa makan kalo kamu udah tidur.”
“Iya.. Jangan gak makan ya.”
“Iya gundul ku sayang.” Dalmy mencium atas kepala nya Trini yang hanya ada kulit kepala tanpa ada sehelai rambut pun.
“Aku juga mau dong.”
“Kamu mau apa?”
“Aku juga mau cium kepala kamu.”
“Nih..” Dalmy mengarahkan atas kepala nya yang juga hanya ada kulit kepala tanpa ada sehelai rambut pun, untuk di cium. Di belai dan di cium nya kepala plontos Dalmy.
“Sekarang kita adu ya.”
“Iya.”
Di arahkannya kepala Dalmy untuk bersentuhan dengan kepala Trini untuk di tempel dan sedikit di dorong-dorong.
Keduanya tersenyum melakukan kebiasaan baru mereka itu.
“Gundul ketemu gundul.”
“Dua gundul yang sayang-sayangan.” Trini tersenyum melihat prilaku suaminya yang berusaha menghibur dia.
Melihat Trini sudah mulai terlihat bahagia, Dalmy pun berusaha lagi menghibur dengan cara yang lain.
Tak berapa lama..
“Yang.. Udah mulai berasa sakit dan dingin.”
Aksi Dalmy terhenti. Wajah nya yang terlihat senang langsung berubah serius dan mulai terlihat sedikit panik.
“Udah banget belum?”
“Belum sih, tapi udah mulai berasa.”
“Selimut nya mau di pakein sekarang?”
“Iya boleh.”
Dalmy mengambil selimut dakron besar dan menyelimutkan pada Trini. Walau pun sudah ada selimut dari rumah sakit. Akibat dari kemoterapi dapat menyebabkan Trini merasa kedinginan hingga sangat menggigil.
“Sayaaaang… Dingiiiiin…”
“Iya sayang, aku ada di sebelah kamu kok. Aku gak akan kemana-mana.”
Trini mulai terlihat menggigil. Dalmy memasukan tangan nya ke bawah selimut dan memegang erat tangan nya.
“Aku ada disini sayang. Aku ada disini.”
Tangan lain Dalmy memegang wajah kanan Trini dan di elus-eluskan pelan sampai ke arah atas kepala.
Tubuh Trini yang kurus dengan tulang pipi yang sangat kelihatan terlihat lemah, kesakitan dan kedinginan.
“Ini terakhir sayangku.. Ini terakhir..” Dalmy tetap memberi dukungan pada istrinya.
Trini tidak menjawab. Dia sangat menggigil dan sedang merasa tersiksa dengan racun kemotrapi yang mengalir di dalam darah di seluruh tubuh nya.
Dalmy memandang sangat sedih dan kasihan melihat apa yang sedang terjadi pada istrinya. Dia tahu.. segala ucapan, semua belaian dan semua tindakan yang akan coba dia lakukan, tidak akan bisa mengurangi sedikit pun segala rasa sakit yang sedang di rasakan oleh Trini sekarang ini. Namun dia tetap memberi dukungan apa pun yang dia bisa.
Tangan yang di pegang Dalmy terasa dingin. Dia semakin merapatkan kursi nya ke arah kasur. Di taruh kepala nya di sebelah kepala Trini menjadi setengah tidur dan tangan nya di dalam selimut jadi memeluk perut Trini.
“Aku akan selalu ada di sebelah kamu sayangku.. Kamu sakit, aku sedih. Kamu senang, aku bahagia. Kamu gundul, aku gundul.. Kamu adalah hidupku. Kamu inget itu ya sayang..”
Tatapan kosong yang lemah, rahang mulut yang terus bergetar dengan bibir yang terbuka, tangan yang gemetar berkumpul di depan dada sambil tergenggam dan juga kaki yang terlipat sehingga Trini berposisi seperti bayi di dalam rahim. Dingin.. Dingin.. Dingin.. Dan dingin beserta sakit yang sangat yang di rasakn nya sekarang ini.
“Aku ada di sini sayang..”
Trini masih saja hanya bisa menggigil, gemetaran dan kesakitan. Dia sebenarnya merasa bahagia dengan kasih sayang yang di terima oleh Dalmy. Dia ingin bisa menjawab dan berterima kasih atas segala bentuk kasih sayang yang dia terima saat ini. Tapi dirinya sedang di kuasai oleh racun kemotrapi. Tidak ada bisa dia lakukan. Dengan sangat perlahan dia memiringkan kepala nya lebih mendekat ke kepala Dalmy yang ada di sebelah nya. Dalmy menyambut, memposisikan kepala Trini jadi menempel pada lehernya dan mencium kepala Trini.
“Aku ada di sini sayang..”
Dalmy yang terlihat sedih melihat apa yang sedang di alami istrinya, hanya bisa menjadi sosok yang selalu menemani dan bisa selalu ada untuk nya. Tanpa bisa berbuat apa-apa untuk bisa mengurangi segala siksa rasa sakit yang sedang di alami Trini.
Di kamar yang sepi itu sebuah bentuk kasih sayang tercipta dan di persembahkan. Sebuah pengharapan hadir beserta rasa bahagia yang tak terkira. Besar nya suatu bentuk cinta sangat terasa dan hanya mereka berdua yang dapat merasakan apa yang mereka rasakan.
“Aku ada di sini sayang..”
Dalmy terus berkata lembut untuki terus mengingatkan Trini bahwa dia selalu ada di dekat Trini.
Mungkin tubuh Trini sedang merasa sangat kedinginan. Tapi di dalam hatinya dia merasa sangat hangat dan bahagia. Karena diri dan hatinya sangat di jaga dengan baik oleh orang yang sangat di cintai nya.
Kamar 304 itu menjadi saksi berbagai macam rasa di dalam hati yang sedang di rasakan oleh kedua pasangan tersebut.
---------------------
Siang hari, di sebuah kamar rumah sakit.
Trini sedang membaca buku La Tahzan setelah menyelesaikan makan siang nya.
“Pemisi mbak Trini..” Suster Ita datang dan masuk menghampiri Trini.
“Ehh.. Iya suster.” Konsentrasi baca nya terpecah saat suster datang. Dia menruh pembatas buku dan menutup buku yang di taruh di pahanya.
“Makan nya udah selesai ya mbak? Saya mau cek tensi sambil ngecek infuse nya aja kok. Baca nya di terusin aja mbak.”
“Iya sus.”
Setelah tak berapa lama.
“Tensi udah mendingan. Infus nya masih nanti saya gantinya. Ini bekas makan nya sekalian saya bawa ya mbak.” Suster Ita membereskan peralatan nya sambil bersiap membawa peralatan makanan.
“Iya bawa aja, saya udah selesai kok.”
“Saya permisi ya mbak.”
“Iya, makasih ya sus.”
Suster Ita meninggalkan Trini yang kembali menjadi sendiri.
Di taruh nya buku yang di baca nya di meja samping kasur. Trini mengingat kembali semua nya hingga dia bisa berada di kamar itu sekarang ini.
Beberapa bulan setelah pernikahan, mereka berdua mengetahui bahwa Trini terkena kanker pada payudara kiri nya.
Mereka pun rutin dan sibuk mengecek kesehatan Trini di rumah sakit kanker pemerintah Dharma. Di ketahui Trini terkena kanker payudara stadium 3C. Stadium yang cukup tinggi dan harus di ambil tindakan operasi kanker sekaligus mengangkat payudara kiri Trini.
Trini merasa sangat terpukul dengan kondisi kesehatan nya yang terkena penyakit yang termasuk paling di takuti semua perempuan di muka bumi ini. Dia merasa sangat sedih dan stres. Dirinya yang baru saja menikah harus menghadapi cobaan berat seperti ini.
“Walau pun nanti kamu akan di operasi dan di angkat payudara kiri nya, aku akan tetap sayang sama kamu dan menganggap kamu selalu cantik untuk ku. yang terpenting adalah, kamu sembuh.” Dalmy berusaha memberikan keyakinan dan dukungan untuk Trini yang sedang merasa terpukul.
“Aku takut yang.. Kenapa aku harus kena penyakit kaya’ gini? Salah aku apa? Kenapa gak kena penyakit yang biasa yang kecil aja? Aku takut.. takut banget.”
“Kalo kamu nanya aku kaya’ gitu, aku gak tahu harus jawab apa.”
“Aku akan kehilangan organ tubuh aku. Aku nanti nya jadi sosok perempuan yang gak sempurna. Ada bagian dari aku yang hilang mengurangi nilai diriku. Belum lagi nanti harus menghadapi kemotrapi, masukin racun ke badan ku untuk membunuh virus kanker yang bisa aja nyebar di dalam tubuh ku. Kemotrapi itu katanya menyiksa banget yang. Aku takut..”
”Mau kamu seperti apa. Mau kamu jadi bagaimana nanti. Aku akan tetap ada untuk kamu, sayangku. Gak akan ada yang berkurang dari kamu. Kamu tetap sangat bernilai untuk aku. Kamu itu yang melengkapi hidupku. Seperti apa pun kamu, aku akan selalu butuh kamu yang mengisi mengisi segala kekurangan yang ada dalam hidup aku.”
Mendengar itu Trini langsung menatap Dalmy dengan penuh perasaan haru dan senang.
“Bener…? Kamu anggep aku kaya’ gitu?”
Di pegang nya pipi kiri Trini yang mulai terasa tulang pipinya dengan tangan kanan nya dan di belai nya pelan.
“Iya lah sayang.. Kalau gak ngapain aku mau nikah sama kamu! Dasar perempuan. Sok nanya, biar bisa selalu denger kalo pasangan memang sayang dan butuh sama dia. Iya kan? Uwgh..” Belaian itu berubah menjadi cubitan kecil.
“Aduuuwh.. Biarin aja kenapa siyh. Aku kan pengen dengar kalau kamu memang sayang sama aku. ”
“Iya sayang.. Kamu boleh nanya kapan aja tentang rasa sayang ku sama kamu. Dan aku pasti akan selalu jawab aku sayang sama kamu, gimana pun kondisi kamu. Jadi jangan takut yah.”
“Iya sih.. Aku juga tahu, kalau memang lagi di hadapkan dengan situasi kaya’ gini ya di hadapin aja dan lakuin solusi nya. Mama, papa, abang dan adik.. Sahabat-sahabat aku juga jadi yang sangat baiiik banget sama aku. Mereka semua pengen aku senang. Semua nya sudah berusaha dukung aku. Aku simpen semua dukungan itu. Yang paling aku butuhin adalah dukungan dari kamu.”
“Tuh kan.. Semua orang yang sayang sama kamu, dukung kamu, mau berusaha memberikan apa pun yang terbaik buat kamu. Apa lagi sayang nya aku ke kamu. Kamu harus terus ingat itu ya.” Dalmy memberikan senyum terbaik nya.
“Iya sayang..”
Trini membalas senyuman Dalmy. Namun tetap terlihat ada rasa takut terpancar di wajah nya.
Trini yang sedang mengingat betapa besar nya dukungan dan kasih sayang yang Dalmy berikan pada dirinya, hanya bisa selalu tersenyum di kala mengingat nya.
Lalu pada satu hari sebelum operasi di mulai.
“Mbak Trini.”
“Iya suster.”
“Hari ini ada ibu Rita yang mau kemotrapi hari ini, di kasur sebelah mbak.”
“Oh ya? Kapan dateng nya sus?”
“Sebentar lagi juga sampai. Dia sudah sering datang ke sini untuk berobat.”
“Sudah sering? Maksudnya gimana sus?”
“Nanti mbak tanya aja sendiri sama orang nya. ngobrol aja sama dia, orang nya baik sekali kok.”
“Oh gitu.. Ya udah.”
“Sudah dulu ya, saya cuman menginformasikan ini aja sama mbak.”
“Iya, makasih ya sus.”
Tak berapa lama datang suster bersama seorang ibu-ibu.
“Mbak Trini, ini ibu Rita yang tadi saya ceritain.”
“Ehh.. Halo ibu Rita, saya Trini.”
“Halo mbak Trini, saya Rita.. Mbak panggil saya tante aja ya, biar lebih akrab.” Ibu Rita menyalami Trini
Trini takjub dan terperangah dengan sosok ibu Rita yang di lihat nya. Seorang perempuan paruh baya dengan umur sekitar 55 – 60 tahun. Dengan wajah yang sudah terlihat tua, dia selalu memberikan senyuman tulus nya. Yang membuat Trini takjub adalah, ibu Rita ini berkepala botak plontos. Tapi bukan itu yang membuat Trini terperangah. Dari samping atas kiri, sampai ke belakang bawah, memutar lagi ke kepala bagian atas dan kembali ke samping atas kiri kepala ibu Rita.. Terdapat susunan macam besi staples yang kira-kira hanya berjarak 5cm memenuhi alur tadi.
“Ibu mau langsung di kasur sebelah aja bu.”
“Ohh.. Iya sus.. Biarin aja, suster tinggalin aja saya. Masih dua jam lagi kan saya di kemotrapi nya? Nanti kalau ada perlu apa-apa saya panggil deh.”
“Ya udah.. Kalau begitu saya permisi dulu ya. Misi ya mbak.”
“Iya sus.”
Suster pun meninggalkan mereka berdua di kamar.
“Kalau saya duduk dulu di sini sebelah kamu boleh gak sayang?”
“Hah? Oh boleh kok tante, silahkan aja. Memangnya tante gak ingin istirahat?”
“Gak ah.. Nanti saja. Saya belum terlalu capek.” Ibu Rita menggeser kursi agar menjadi lebih dekat dari kasur.
Trini pun berusaha agak bangun dari rebahan nya.
“Eh kamu gak usah bangun, biarin aja kamu tiduran. Gak papa kok, biar saya duduk aja disini. Apa kamu mau kasur nya jadi posisi setengah duduk?”
“Eeehh.. Iya tante justru saya bangun mau rubah posisi kasur saya.”
“Sudah gak usah, kamu tiduran aja, biar tante yang atur posisi kasur kamu.” Ibu Rita langsung mengatur posisi kasur dengan memutar engkol yang ada di bawah.
“Sudah? Segini aja cukup gak?”
“Sudah cukup tante, sudah pas.”
Setelah keduanya sudah merasa pas dan nyaman dengan posisi mereka masing-masing. Mereka mulai saling bicara dan bercerita satu sama lain.
“Kamu sakit apa sayang?”
“Saya kena kanker payudara stadium 3C tante...” Trini bicara agak pelan dan sedih karena harus menyebut penyakit yang sedang di derita nya.
“Oww.. Kena yang mana?”
“Kena yang sebelah kiri tante.”
Ibu Rita memberikan senyuman kepada Trini.
“Kamu tahu.. Saya bukan ingin membandingkan. Saya juga pernah kena kanker payudara. Bukan yang kiri dan kanan, tapi dua-dua nya sekaligus. Dan keduanya sudah sukses di operasi dan diangkat. Jadi saya sudah tidak mempunyai payudara sama sekali.”
Trini memandang ke arah dada ibu Rita. Memang terlihat tidak ada tonjolan payudara sama sekali.
“Waahh.. Maaf ya tante.”
“Loh? Kenapa kamu harus minta maaf sayang? Kamu kan tidak salah apa-apa. Saya juga tidak merasa sedih dan malu dengan apa yang terjadi pada saya.”
“Saya kasihan aja sama tante. Saya aja yang cuman kena satu merasa sedih, takut dan malu. Apa lagi tante yang kena dua-duanya sekaligus.”
“Iya.. Dulu saya memang merasa marah semarah-marahnya, malu dan takut. Itu wajar kalau kita merasa seperti itu. Itu memang berarti, kita memang mencintai tubuh kita. Kita gak mau ada apa-apa sama tubuh kita. Iya kan?”
“Iya tante.”
“Apa pun yang saya rasakan waktu itu, tetap saya rasakan. Tapi bukan berarti saya gak ngapa-ngapain. Saya tetap jalanin operasi dan kemotrapi demi kesembuhan saya. Saya gak mau ada penyakit yang bersarang di tubuh saya. Saya ingin penyakit itu pergi dan lenyap dari tubuh saya. Apa pun resiko dan akibat yang harus saya terima, saya tetap jalani apa pun agar saya bisa sembuh. Bukan saya yang kalah, tapi penyakit itu yang harus musnah.”
Trini terpaku melihat ibu Rita yeng bercerita dengan semangat nya, betapa dia sangat mencintai diri dan tubuh yang di milikinya.
“Iya betul tante. Terima kasih tante atas dorongan dan semangat nya. Saya butuh itu dari siapa pun juga.”
“Dengan senang hati sayang. Tante senang bisa berbagi yang bisa membuat orang jadi terinspirasi atau ada semangat baru.”
“Tapi tante.. Kalau tante sudah sembuh, ngapain lagi tante kesini?”
“Kamu liat gak jejeran besi yang seperti staples di kepala saya?”
“Iya saya liat. Itu apa sih tante, kok kaya’ gitu?”
“Ini bekas tante habis operasi tumor otak di kepala tante.”
“HAH?! Tumor otak?!” Trini terkejut mendengar kata ibu Rita. Dan dia menyebut nama penyakit nya dengan biasa saja.
“Iya.. Pernah ada tumor kecil yang tumbuh di kepala tante ini. Stadium nya tidak terlalu besar, baru hanya stadium 1. Makanya buru-buru di operasi supaya stadiumnya tidak naik dan tante tetap hidup.”
“Ya ampun tante…”
“Iya.. Kepala tante ini di gergaji, di copot dulu, di ambil tumornya lalu di pasang kembali yang tadi di gergaji. Dan untuk tetap kuat merekat harus di bantu dengan yang seperti stapler besar ini. Hari ini tante mau kemotrapi yang kedua.”
“Astaga..”
“Saya ada cerita lucu.. Kemarin-kemarin pas saya lagi jalan di trotoar. Lalu di depan saya itu ada seperti toko tattoo dan piercing. Di depan nya itu ada sekitar tiga orang anak muda yang sedang kumpul. Pas saya lewat, tiba-tiba saya di panggil oleh anak yang badan nya bertato dan wajah nya penuh dengan tindikan yang aneh-aneh sampai kuping nya ada bulatan lebar di bawah kuping nya. Terus dia datengin saya,” Tante, maap tante. Kepala tante keren banget!! SUMPAH!! KEREN BANGET!! Tante bikin dimana tuh kaya’ gitu?” Terus saya bilang aja,”Saya bikin nya di rumah sakit Dharma.” Dia heran,”Rumah sakit? Oh disana bisa ya bikin kaya gitu? Wah asli keren banget tante. Asli! Saya baru liat. Tante oke banget jadi trend setter kaya’ gitu. Makasih ya tante, keep fungky tante. Kereeeen..” Terus ya sudah saya tinggalin dia yang kembali ke teman-teman nya yang langsung membahas kepala tante ini.” Ibu Rita terlihat sangat gembira menceritakan apa yang telah dialaminya.
“Hahahaha… Ada-ada aja ya tante.”
“Iya.. Tante sempat kegelian sendiri dengan antusias anak itu. Tapi tante terima kasih sama juga dia, karena dia tante jadi merasa di anggap keren oleh suatu kalangan.”
“Hahahaha.. Iya iya, bener tante. Tapi tante memang kelihatan percaya diri banget kok orang nya.”
“Tante cuma mencintai diri dan badan tante ini dengan semestinya. Gak ada yang perlu tante sedih kan dengan kondisi badan tante ini.”
“Padahal badan tante sudah banyak cobaan nya ya.”
“Tubuh tante ini di gemari oleh tumor dan teman-teman nya. Tante juga heran kenapa dia milih tubuh yang tua ini ya. Padahal kondisi nya sudah gak terlalu baik juga. Tapi gak masalah kok, dari pada penyakit ini kena di tubuh yang masih muda seperti kamu ini, kan kasihan.”
“Saya juga berharap tidak banyak perempuan yang terkena penyakit seperti saya. Karena saya tahu, tidak enak nya merasakan mempunyai penyakit ini.”
“Wah kamu hebat, sudah bisa berpikiran mulia seperti itu.”
“Perempuan mana sih tante, yang mau terkena penyakit kaya’ kita?”
“Maaf ya saya bukan nya mau nasihati kamu. Tapi cuman mau mengingatkan aja. Kamu jangan mau kalah dengan penyakit yang ada di diri kamu. Ini tubuh kamu. Kamu yang memiliki, kamu juga yang menentukan maunya kamu bagaimana. Tidak ada siapa pun dan apa pun kecuali Tuhan yang berhak atas tubuh kamu sendiri. Kamu terus yakinkan diri kamu agar tubuh kamu ini bisa menjadi sembuh dan hilang semua segala penyakit yang ada di dalam nya. Perintahkan tubuh kamu dengan segala keyakinan yang kamu punya dan dukungan dari orang-orang yang sayang sama kamu, agar bisa kembali pulih sehat seperti semula. Harus tetap yakin ya sayang.”
“Iya tante.. Makasih ya tante.”
“Dan juga.. Kamu jangan kekurangan percaya diri setelah operasi. Kita di latih jadi sangat kuat dan hebat untuk menghadapi ini. Perempuan kalau tidak di uji, segala kehebatan besar yang ada di dirinya tidak akan keluar. Tapi kalau sudah di uji, perempuan bisa lebih hebat dari pria dan semua makhluk hidup apa pun yang ada di muka bumi ini. Itu pun kalau perempuan nya mau dan bisa menghadapi yang sedang di alaminya.”
Trini tertegun. Dia mendapat semangat dan masukan baru yang sangat berharga. Dia merasa Tuhan telah mengirim seorang pembawa pesan yang perintah kan oleh Nya.
“Sampai segitu nya kah.”
“Iya.. Yakin saja atas kemampuan diri kamu sendiri. Jangan pernah saat kamu ragu, kamu mengucapkan sesuatu yang di awali dengan ‘Tapi..’.”
Sebuah kekaguman di tandai dengan senyum Trini yang mengembang. Pelajaran mahal yang hanya di dapat dari sebuah scenario hidup Tuhan telah di ajarkan padanya.
“Iya tante.. Saya makasih banyak atas segala yang sudah tante cerita dan bagi ke saya. Saya berterima kasih banget.”
“Sekali lagi.. Dengan senang hati sayang.”
“Assalam mualaikum..”
Walaikum salam..” Trini dan bu Rita menjawab.
Ternyata ada bu Via, mama nya Trini datang.
“Eh mama.. Ma.. Kenalin ini tante Rita.”
“Halo.. Saya Via. Mamanya Trini.” Ibu Via yang agak kaget dan takjub tetap berusaha memberikan senyuman ramah terhadap ibu Rita.
“Bu Via.. Saya Rita, saya pasien temen sekamar nya anak ibu baru hari ini.”
“Halo sayang..”
“Yang lain mana Ma?” Trini salim dengan ibunya dan saling memberi kecupan.
“Bentar lagi juga dateng kok.”
“Saya jadi menganggu ya. Saya pindah dulu ke kasur saya aja ya.” Ibu Rita ingin pindah agar bisa memberi privasi kepada mereka berdua.
Bu Via menahan bu Rita.
“Eh jangan dulu bu.. Ibu sekalian aja ikutan lihat surprise untuk Trini.”
“Hah? Surpirse? Surprise apa ma?” Trini merasa heran.
Ibu Rita yang masih di tahan untuk duduk, merasa terlihat senang bisa ikut merasakan suatu kegembiraan.
“Wah.. Senang nya, kamu bisa dapat surprise.”
“Kamu operasinya kan besok. Tapi kamu mau cukur rambut nya nanti sore kan? Ini ada kejutan buat kamu.”
“Kejutan apa sih ma? Dan apa hubungan dengan aku mau cukur nanti sore?”
“YA UDAH MASUK SEKARANG!” Ibu Via agak berteriak memanggil ke arah luar pintu kamar.
Lalu masuk lah hanya lelaki yaitu ayah, suami, kakak, adik, saudara dan sahabat nya Trini ke dalam kamar.
“YA ALLAH….” Trini sangat tertegun. Mata nya terbelalak dan dia langsung menaruh kedua telapak tangan nya menutupi mulutnya. Dan seketika itu juga air mata yang sangat bahagia mengalir deras dari matanya sambil menggeleng-gelengkan kepala nya. Dia tidak percaya dengan apa yang di lihat nya sekarang ini.
Mereka yang hadir telah menggundulkan kepala mereka hingga licin demi Trini. Orang-orang berkepala gundul yang selama ini selalu hadir dalam hidup Trini kini ada di hadapan nya. Suatu bentuk solidaritas dan bukti sayang nya mereka kepada Trini.
“ASTAGA..” Ibu Rita juga tertegun serta turut mengeluarkan air mata.
Mereka yang masih berjejer di depan Trini, mengeluarkan senyum yang sangat lebar di hadapan nya dan kemudian saling memandang satu sama lain karena merasa kejutan mereka telah berhasil.
Pak Sumal, ayah Trini yang pertama menghampirinya ke kasur.
“Halo anakku sayang.. Kita semua gak mau kalah sama kamu... Kita mau lebih dulu botak sebelum kamu.” Di peluk nya Trini yang masih menangis dan di cium nya kepala Trini.
Trini menerima pelukan sambil masih nangis sangat bahagia. Dia belum bisa berkata apa-apa. Dukungan, perhatian dan kasih sayang yang begitu besar dari orang-orang yang begitu berarti dalam hidup nya baru dia benar-benar rasakan saat ini.
Lalu gantian Dalmy menghampiri nya. Di peluk nya juga Trini. Trini kini mulai hanya tersedu-sedu.
“Hai baby.. Semua orang sayang sama kamu, sayang. Kita gak terima kalau kamu jadi trend setter di antara kami. Jadi kami yang mulai duluan dan kamu nya yang jadi ikut-ikutan kita.”
Tangis Trini yang tadi nya sudah berkurang, menjadi kembali menangis lagi. Tidak hanya Trini.. Ibu Via dan ibu Rita pun terlihat senyum yang sangat terharu di sertai dengan air mata.
Dan bergantian pun mereka yang selama telah mengisi dan memberi dukungan kebahagiaan kepada Trini.
Semua kebahagiaan yang ada di muka bumi pada hari ini, telah dimiliki oleh Trini yang terkumpul di dalam hati nya. Tidak ada siapa pun yang bisa merasakan rasa itu. Rasa yang telah mengalir melalui air mata dan ekspresi wajah yang jadi jelek karena menangis yang sangat bahagia.
-------------------------------------
Siang hari, di sebuah rumah
Trini melihat sosok nya di depan kaca. Hari itu, tepat 3 tahun yang lalu dia di operasi kanker payudara yang menyebabkan dia kini hanya memiliki satu payudara di kanan.
Dia memandang dirinya dengan sedikit sedih. Terutama saat dia memandang dirinya di daerah dada. Agak lama dia memandangnya…
Lalu dia menggerakan kedua tangan nya. Dengan telapak tangan yang melebar, dia menaruh tangan nya di dadanya. Lalu dengan perlahan dia mulai meremas tangan nya secara perlahan sambil memejamkan matanya.
Pelan... Pelan… Pelan..
Tangan kanan nya telah berhenti karena telah ada yang bisa sedikit di remas. Tapi tangan kirinya terus saja berusaha meremas sampai akhirnya tangan itu menjadi terkepal menempel di dada kirinya. Di ulang nya lagi tangan kiri untuk untuk bisa meremas sesuatu sampai berkali-kali.
Akhirnya tangan kiri itu diam tergenggam bergetar menempel di dada kiri nya. Wajah nya makin makin terlihat sedih. Sedih sekali.. Sedih mendalam yang makin terlihat di wajah nya. Tapi tiada air mata setetes pun yang mengalir dari matanya.
Trini mengambil nafas yang panjang. Lalu di keluarkan secara perlahan. Di ulangnya lagi dan di ulang, hingga dia kembali bernafas seperti biasa.
Tiba-tiba dia sedikit kaget. Ada suara yang terdengar oleh nya. Dia memandang dirinya sekali lagi. Kali ini dia bereaksi tersenyum.
Dia meninggalkan sosok dirinya di dalam kaca dan berjalan menghampiri sumber suara membuat nya merasa bahagia.
“Duwhh sayang.. Kenapa sayang.. Kok kamu nangis? Udah laper ya? Yuk nyusu sama mama yuk..”
Di angkat nya bayi kecil nya. Trini duduk dan menyusui bayi nya dengan payudara kanan nya. Sambil di ajak bicara dan sesekali bersenandung.
Di pandang nya bayi tercinta nya dengan penuh kasih sayang. Ada raut Dalmy sang suami yang sangat mencintai nya di wajah mungil itu.
“Abis ini kita telpon papa yuk.. Pasti papa pengen banget denger suara kamu.”
Dengan kondisi diri nya sekarang ini. Trini merasa telah menjadi seorang perempuan yang paling sempurna yang pernah Tuhan ciptakan.
-Dimar-.
Notes: To all woman. Please.. Take good care your body and your health. Please..
( Cerita ini fiksi belaka. Terinspirasi oleh salah satu perempuan yang sangat gua idolakan atas kuat dan tabah nya dia dalam menhadapi hidup yang dia hadapi. Dia adalah adik perempuan gua tercinta.. Love you sis’ ).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar