Minggu, 25 Juli 2010

Julio dan Romiet

Romiet berhenti di depan kamar hotel itu.

402

Hanya dia seorang perempuan di sepanjang lorong depan kamar.

Dengan wajah yang ragu-ragu dan penuh berpikir, Romiet mempunyai keraguan untuk masuk ke dalam kamar itu.

Akan ada hal yang sangat besar terjadi dalam hidup nya bila dia telah berada di dalam kamar itu. Dan akan merubah diri nya dari yang selama ini.

“… I let you go.. I let you fly.. Why do I keep on asking why.. I let you go.. I let her found, the way to keep somehow.. More than a broken vow..”

“Aduuuh..” Romiet terkejut.. Ringtone handphone nya berbunyi, terdengar lagu “Broken Vow” nya Josh Groban. Dia pun jadi sibuk mencari handphone nya di tas. Saat dia sibuk mencari di dalam tas. Tiba-tiba pintu di depan nya terbuka dengan cepat.

“Cerminan hatiku?” Julio yang masih memegang handphone di kuping nya ternyata mendengar ringtone handphone Romiet dari dalam.

“Astaga!” Romiet kaget dan mundur.

“Sudah berapa lama kesendirian menemani mu?”

“Ehh.. Eee.. Ti tidak kekasihku, hanya detik yang baru berlalu. Eeee.. Aku baru mau menghampiri mu, tapi kau langsung mengusir kehampaan yang berusaha mendatangi ku.” Romiet yang masih kaget sedikit gelagapan bicara ke Julio.

“Marilah batu muliaku.. Peganglah tangan yang selalu ingin membelai mu ini.” Julio terlihat senang dan memberikan tangan nya mengajak Romiet.

Romiet hanya diam sambil mengambil tangan Julio. Dia melihat Julio yang mengenakan tuksedo yang sangat rapih. Rasa takut sedikit muncul di wajah nya. Dia merapihkan rambut samping nya ke belakang kuping. Rasa tidak nyaman sangat terasa sekali di dalam dirinya.

“Lihat lah.. Telah kubawa bagian dari istana untukmu.”

Kamar berukuran sedang itu itu di penuhi dengan helai bunga mawar merah dan putih yang tersebar banyak di lantai kamar. Sampai di tempat tidur yang berukuran cukup besar. Juga terlihat di dalam kamar mandi yang sedang terbuka.

Terdapat pula meja bulat kecil dengan dua sofa single. Di atas meja itu terdapat sebotol anggur Romanee-Conti yang belum terbuka beserta dua gelas nya.

Romiet tidak terlihat terpukau dan merasa senang dengan situasi kamar yang ada.

“Ini ku perbuat demi kau, wahai denyut nadiku. Untuk hari mulia yang bagi kita.” Julio terlihat antusias. Bangga dengan apa yang telah dia lakukan terhadap kamar itu.

Romiet yang melihat Julio yang senang antusias, berusaha mengatur nafas nya dengan baik. Perasaan yang semula tidak nyaman coba dia rubah dengan melihat ekspresi bahagia yang terlihat pada Julio. Kendati masih ada ganjalan di dalam hati dan pikiran nya.

“Kau ingin meneguk sesuatu, nafas hidupku?” Julio mendekat kan diri nya ke Romiet.

“Usah lah kau berlaku itu. Kan katakan padamu saat ku ingin.” Romiet terlihat lebih tenang. Dia berusaha menikmati apa sedang ada saat ini.

“Baiklah.. Saat rembulan terlukis di luar sana, segala sabda mu adalah titah bagiku untuk segera di wujudkan.”

“Ku merasa senang mendengar nya. Senang ku adalah bukti terima kasih ku.” Romiet terlihat mulai tersenyum.

“Kau harus merasa senang karena ku, mutiara hatiku. Untuk itulah aku di lahirkan.”

“Hatiku telah tahu itu, Julio. Hatimu telah lama memberikan yang dapat mencerahkanya.”

“Sekeping hati ini tiada pernah ragu membahagiakan mu.”

Romiet terdiam sejenak.

“Telah kah kau menggunakan hati dan nalar mu untuk apa yang hendak kita perbuat di kala gelap nya langit ini?”

“Ku telah menggunakan nya dengan segala keteguhan yang ada. Tiada keraguan seperti saat Musa harus bertanya pada Tuhan sebelum dia membelah lautan.”

“Seyakin itu kah kau Julio? Layak nya Isa yang selalu memohon pada Tuhan agar memaafkan mereka yang sedang menyiksanya?”

“Ku telah tahu angin semilirku.. Ku telah menyibak cerita jalan hidup kita saat Tuhan sedang lengah.”

“Hahahaha.. Sungguh kah? Tertulis seperti apa Julio?”

“Di situ tertulis, “Dan pada malam itu, kan Ku jadikan malam terindah bagi umatku yang mengetahuinya.” Apa kau telah mengetahui nya?”

“Terindah bagi yang mengetahuinya? Berikan padaku segala bentuk yang kau tahu.”

“Romiet.. Dahulu aku hanya lah bagian dari lautan yang luas. Tiada berarti, hanya lah sebuah bagian. Ku bergerak menjadikan diriku sebagai ombak besar tak terkalahkan yang dapat menghancurkan apa pun dan di kagumi oleh semesta. Dan kau.. Pantai putih indah nan luas, yang tenang dan menyejukkan. Kau dapat membuat ombak besar sepertiku untuk turun kembali menjadi bagian dari lautan agar menghampiri mu dan meresap di pasir putihmu.”

“Oh Julio.. Lautan ku yang indah. Hatiku tersenyum kala kau melantunkan pujian mu. Tiada kalimat indah yang dapat membalas pujian. Ku menjadi tak pandai berkata.”

“Berikan tas mu, Cintaku.” Julio mengambil tas Romiet dan menaruh nya di meja samping kasur.

Romiet merasa sangat di perlakukan spesial malam ini. Dia dapat merasakan besar nya bukti cinta Julio dengan apa yang telah dia siapkan untuknya.

“Romiet, pasangan jiwaku.. Bagaimana dengan gaun indah yang telah ku hadiah kan untuk mu. Telah kah kau membawa serta malam ini?”

“Tiada perlu kau merasa cemas Julio. Keindahan yang telah ada pada diriku malam ini, belum lah seberapa. Kiranya kau akan lebih terpesona nantinya.”

“Oh Romiet.. Tiada harapan terindah dalam hidup ku saat ini, kecuali melihat mu memakai gaun itu. Sudikah engkau memperlihatkan ku pesona dirimu?”

“Bersabarlah Julio, aku akan mengenakan nya. Kau beri aku waktu, kau keluar lah sejenak dari sini.”

“Baiklah Romiet, ku kan turuti kehendak mu. Beri tahukanlah aku bila kau telah bersiap diri.” Julio langsung keluar dari kamar itu.

Romiet langsung berganti dan mengenakan gaun indah yang telah di hadiahkan Julio untuknya.

Seselesai nya dia membuka sedikit pintu dan kembali ke tengah kamar. Julio masuk dan terpaku melihat penampilan baru Romiet. Romiet terlihat sangat anggun dan manis dengan gaun terusan selutut yang tidak terlalu membentuk tubuhnya itu.

“Bidadari mana pun akan mengurungkan niat nya untuk turun ke bumi bila dia tahu kau berpenampilan seperti sekarang ini, mata airku.”

“Kau yang membuat aku menjadi seindah matahari terbit Julio.”

“Apalah arti keindahan alam semesta ini tanpa kehadiran mu dalam kehidupan ku.”

“Aku hanya bagian kecil yang terlahir untuk mencinta dan di cinta oleh mu.”

“Romiet.. Sudikah kau memaafkan ku yang hanya dapat mempersembahkan sebuah gaun. Belum dapat ku berlaku laksana Shah Jahan yang mempersembahkan Taj Mahal untuk Arjuman Banu Begum. Kau layak mendapatkan lebih dari sebuah Taj Mahal.”

“Tiada perlu kau berlaku seperti itu. Segala ingin ku telah kau usahakan untuk terpenuhi.”

“Ku tetap meyakinkan hatiku untuk beri yang terbaik untukmu.”

“Apa gerangan yang akan berlaku sekarang?”

“Kau tidak hendak meneguk sesuatu dahulu Romiet? Atau menikmati sebuah hidangan?”

Romiet terdiam.

“Tuangkanlah Romanee-Conti yang telah kau persiapkan untuk ku.”

“Kan ku persiapkan untuk mu. Mari kita pindah ke tempat itu. Kita teguk bersama saja. ” Julio
mengajak Romiet untuk duduk di sofa kecil. Dia membuka dan menuangkan nya ke gelas untuk mereka berdua.

“Untuk malam yang tak terlupakan.. Bukan hanya untuk kita, tapi pula untuk seluruh umat manusia."

Mereka berhadap-hadapan dengan posisi kedua gelas mereka berada di antara mereka berdua.

“Salute embun pagiku..”

“Salute Julio..”

Mereka menikmati anggur itu dengan tidak lama.

“Romiet.. Ku meminta agar yang ku idamkan tiba saat nya. Sudikah kau?”

“Mmmm?? Ooohh??” Romiet terlihat sadar dan tidak senang, bahwa Julio menginginkan kemauannya untuk di mulai sekarang.

“Marilah Romiet..” Julio mengulurkan tangan nya.

“….. Baiklah Julio.” Dengan terpaksa Romiet mengambil tangan Julio.

Dengan tersenyum, Julio mengambil tangan Romiet dan menaruh nya di dadanya. Mereka pun berdiri. Julio mengajak Romiet menuju tempat tidur. Di persilahkan nya Romiet untuk rebahan terlebih dahulu di tempat tidur.

“Ku persilahkan kau terlebih dahulu. Ada yang ingin ku persiapkan. Aku akan segera berada di sisimu, serbuk bungaku.”

“Baiklah Julio.. Ku kan menanti mu.”

Julio membuka lemari pakaian yang ada di kamar hotel itu. Di situ di ambilnya dua botol minuman. Botol kaca itu kecil, hanya sebesar kepalan tangan dan isinya hanya setengah nya. Lalu Julio menghampiri Romiet dan merebahkan dirinya di sebelah kiri Romiet.

“Kau peganglah dahulu ini dengan tangan baik mu.”

“Baiklah Julio.” Romiet mengambil dan memegang botol itu dengan tangan kanan nya.

Keduanya rebahan bersebelahan di tempat tidur dengan tangan mereka yang saling bergenggaman. Kepala mereka saling berhadapan satu sama lain, dengan jarak wajah yang hanya setelapak tangan.

“Merasakan takut kah kau, gemericik air ku?”

“Tak seberapa Julio.”

“Tak mengapa Romiet. Ku yakin rasa itu tak seberapa di bandingkan dengan rasa cinta mu padaku.”

“Kau benar Julio.”

“Tahukah air apa yang kau genggam tersebut?”

“Beritahukanlah pada ku Julio.”

“Ku menyebut nya Sari Khuldi.”

“Mengapa kau menyebut nya sepeti itu?”

“Adam dan Hawa di turunkan dari Surga ke Bumi karena mereka telah memakan buah Khuldi yang di larang oleh Tuhan. Aku telah meramu ramuan dengan rasa nya yang terbaik. Yang ku yakin akan berakibat yang sebaliknya dari buah Khuldi. Ramuan ini akan membuat kita meninggalkan Bumi dan segera menuju Surga.”

“Aku mendengar mu Julio.”

“Kita akan meninggalkan hidup ini dari manusia-manusia yang sibuk terpaku dengan aturan dari leluhur mereka. Mereka sombong dengan aturan yang mereka punya demi sebuah pengakuan pada diri mereka.”

“Aku juga telah lelah Julio. Di cerca nya kita agar patuh pada aturan mereka sendiri yang telah usang. Tiada pernah mereka memandang berjenis hidup yang ada di sekitar nya. Mereka kerap merasa hanya mereka lah yang terbaik. Serta, yang lain nya di anggap tak pantas untuk bisa setara dengan mereka.”

“Kita telah lelah Romiet.”

“Benar Julio.”

“Kita akan menjadi menjadi legenda, bulan purnama ku. Agar para pecinta yang lain, dengan Tuhan yang satu, dapat di persatukan. Entah darimana dan siapa pun mereka. Kita laksana Adam dan Hawa.. Muhammad dan Siti Aisyah.. Firaun dan Cleopatra.. Serta yang lainnya. Nama kita akan selalu di sebutkan, Kau dengar aku Romiet? Apa engkau bersamaku?“

“Ku bersama mu Julio. Tiada pernah ragukan aku.”

“Maafkan yang kupertanyakan padamu, senandung hatiku.”

“Tak mengapa Julio.”

“Dapatkah kiranya kita melaksanakan nya sekarang, cahaya hidupku?”

“Apakah kiranya yang akan berlaku setelah ku meneguknya,Julio?”

“Tiada yang akan berlaku, pencerah jiwaku. Pejamkan lah matamu setelah meneguknya. Kau akan terbangun di Surga dengan aku yang tetap berada di sisi mu.”

“Baiklah Julio.”

“Mari kita pertemukan botol ini dan berucap rasa cinta kita sebelum meneguknya.”

Mereka mempertemukan kedua botol kecil itu.

“Aku cinta padamu Romiet.”

“Aku cinta padamu Julio.”

Dengan posisi masih rebahan dan bergenggaman tangan. Mereka berpaling menghadap ke atas dan meminum ramuan yang ada di botol kaca itu bersamaan.

Mereka pun memejamkan mata mereka sambil menggenggam lebih erat genggaman tangan mereka.

Nafas mereka masih terdengar. Yang lama kelamaan menjadi lebih pelan.

Dan akhirnya nafas pelan mereka pun menjadi hilang tak terdengar dan dada mereka tak lagi naik turun seperti biasanya.

Kamar itu menjadi sangat terasa sangat sepi.

………………………………………….

Kemudian…

“Hhhaahhhhhhhhh…”

Romiet menarik nafas yang sangat panjang dengan matanya terbuka terbalalak..

Romiet dari tadi mendengar dan berusaha menyamakan ritme suara nafas Julio. Dan setelah Julio tak lagi bernafas, dia ikut pula berhenti. Kini dia bernafas kembali dan dengan sangat cepat hingga akhirnya menjadi bernafas biasa kembali.

Dia langsung bangun dan segera beranjak menuju kamar mandi sambil mengambil tas nya. Di dalam kamar mandi dia langsung mengeluarkan ramuan yang masih ada di mulutnya ke wastafel.

Dia segera buka tasnya, mengambil sekotak susu berukuran tidak terlalu kecil dan langsung meminum yang tidak langsung di telan. Hanya untuk di kumur dan di keluarkan beberapa kali. Lalu memudian meminum habis sisanya.

Merasa kurang puas, di ambil nya lagi kotak susu di dalam tas nya dan langsung meminum nya sampai habis.

Dengan nafas yang terdengar cepat karena takut, Romiet berusaha menenangkan dirinya di depan kaca wastafel sambil sesekali melihat sosok nya di kaca.

Setelah beberapa lama berusaha menenangkan dirinya. Romiet melihat agak lama sosok dirinya yang telah terlihat berusaha tegar dan tenang dengan situasi dan kondisi yang sedang di hadapinya.
Dia merapihkan diri nya dan keluar dari kamar mandi. Dia berganti pakaian dengan apa yang dia pakai sebelumnya, lalu menuju tempat tidur berada persis di sisi Julio berada. Di tatap nya dengan sedih sosok Julio yang sudah kaku.

“Julio ku sayang.. Maafkan aku yang tidak mengikuti keinginan mu untuk meninggalkan hidup ini demi menunjukan amarah mu pada prilaku orang tua kita berdua. Ku telah beritahu padamu agar kita berusaha meyakinkan orang tua kita masing-masing tentang hubungan kita berdua. Namun kau sudah terlanjur menyerah dan belum berusaha sama sekali untuk bertemu dengan orang tua ku sekali pun. Entah kau yang sangat yakin bahwa orang tua kita memang tidak akan bisa berubah. Atau kau nya yang tidak terlalu mau sangat berusaha untuk meyakinkan orang tua ku.”

Romiet terdiam sebentar.

“Aku juga telah sangat membujuk mu agar tidak melakukan hal yang menyebabkan mu menjadi seperti sekarang ini. Tapi kau dengan sombong nya merasa bahwa ini adalah suatu bukti cinta kita yang tak akan terpisahkan oleh siapa pun kecuali oleh maut yang ingin kau tentukan sendiri. Dan dengan egois nya, kau menginginkan aku untuk menuruti kemauan mu tanpa mempertanyakan terlebih dahulu.”

Tak terasa air mata menetes dari matanya. Dan Romiet segera menghapus nya.

“Aku tidak mau mendahului kehendak Tuhan, Julio. Biarkanlah aku sekarang merasakan sakit hati dan sedih yang sangat dalam atas apa yang telah ku perbuat. Aku seorang perempuan yang oleh Nya akan masih banyak di berikan keindahan dalam hidup ku. Aku yakin itu Julio.”

Romiet memperlihatkan dan kemudian menyimpan gaun nya ke dalam tas.

“Aku akan menyimpan gaun ini sebagai kenangan, rasa terima kasih dan rasa syukur ku kepada mu karena pernah mencintai ku.”

Romiet mendekat dan mencium kening Julio.

“Aku cinta padamu Julio.. Namun aku lebih mencintai hidup yang masih akan ku jalani ini.”

Romiet berjalan meninggalkan Julio.

Saat baru hendak melangkah, Romiet berhenti dan memandang balik ke arah Julio.

“Dan ada satu hal lagi Julio. Terima kasih atas keras nya kau berusaha merubah aku agar berbicara dengan bahasa yang lebih baik. Namun, aku sangat capek kalau harus terus berbicara seperti seorang pujangga saat bertemu dengan mu.”

Romiet meninggalkan Julio.

“Selamat tinggal Julio.”

Romiet keluar dan menutup kamar 402.

:)

-Dimar-.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar