Senin, 20 September 2010

Mengiris hati dan diri

Pagi yang cerah seperti biasanya. Deyna sudah bersiap akan berangkat kuliah. "Hari ini adalah hari yang indah buat aku." Deyna berdiri di depan cermin menatap dirinya sambil meyakinkan dirinya.



Ia pun keluar kamar dan melihat ibu nya sedang di meja makan, menikmati sarapan sambil melihat isi surat-surat dan tagihan-tagihan.



"Pagi bu.."



"Mmmm." Ibunya tak menoleh sedikit pun kepadanya.



Selesai sarapan, Deyna bersiap pergi. Di hampiri ibunya untuk salim terlebih dahulu.



Saat salim, barulah ibu melihat Deyna dari atas ke bawah.



"Kamu pake baju apa itu? Kok pake jeans ketat dan baju model agak besar gitu? Gak norak tuh? Kamu kan gendut, kok pake yang ketat gitu? Paha kamu malah keliatan gede banget. Baju nya juga gak matching banget. Kamu ngerti dandan gak sih? Kalo udah gendut gak usah sok ikutan model kalo jadinya gak pantes. Itu maksa namanya. Diet dulu kalo mau gaya. Makan nya jangan bany...."



Deyna langsung jalan keluar rumah. Menghindari rasa sakit hati yang lebih dalam dari perkataan ibunya.



"Dah ibu.."



Masih terdengar ibu nya terus bicara panjang lebar.



"Eh ini anak kalo lagi di kasih tau kok malah pergi! Dasar anak kurang ajar! Kalo bukan ibu, siapa lagi yang ngas....."



Hingga suara itu hilang di telan oleh jarak.



Sambil berusaha menenangkan diri. Deyna terus jalan untuk keluar komplek.



Melewati rumah ke empat dari rumah nya, terlihat ada kesibukan memasukan perabotan rumah. Ada penghuni baru di komplek ini. Tapi ia tidak terlalu memperhatikan dan terus berjalan.



Sementara, dari dalam rumah baru itu ada sosok yang memperhatikan saat Deyna lewat.



Sore harinya. Deyna mengirim sms ke ibunya. 'Bu, ak plg agak tlat. Mau nanya n ambil bhn ujian dl ke rmh tmn ku. Pas isya ak udah plg kok.'



Setelah ada sms 'terkirim' Deyna langsung mute hp nya. Dan tak lama ada telpon masuk dari ibunya. Tapi tidak di angkat nya.



Setelah jadi missed call, Deyna tetap menatap layar hp nya dengan cemas. Tak lama ibu nya sms. 'km knp gk angkat tlp ibu! Km gk usah trs2 alesan ambil bhn ujian! Kpn km bntu urus rmh?! Emang ibu kacung km apa?!'



Segera di hapus sms itu.



Sambil memasukan ke hp ke dalam tas, Deyna melangkah masuk ke dalam SLB-B.



Keesokan harinya di perpusatakaan kampus.



Jam di perpusatakaan sudah pukul 9 pagi. Kuliah jam berapa pun Deyna selalu datang pagi dan berada di situ. Untuk menghindari segala kata-kata hinaan dari ibunya yang tak ingin di dengarnya..



"Hai.." Terdengar suara pelan menyapa nya.



Deyna melihat ke arah yang menyapa nya. Ada sosok laki-laki yang hanya dia tahu kalau orang ini satu kampus dengan nya.



"Hai.. Siapa ya?" Deyna berusaha ramah sambil bertanya.



Laki-laki itu mengulurkan tangan nya. "Saya Ibnu.. Maap kalo ganggu."



Deyna membalas dan mereka bersalaman. "Saya Deyna.. Iya gak papa."



Ibnu langsung duduk di sebelahnya. Deyna pun meninggalkan sejenak buku yang sedang di bacanya.



"Aku ngajak kenalan, karena kaya'nya sekarang kita tinggal 1 komplek. Rumahku kira-kira 3 atau 4 rumah dari rumah kamu. Kemaren pagi pas lagi pindahan, saya liat kamu lewat. Saya tau kita 1 kampus tapi belum kenal."



"Oooo.. Kamu yang baru pindahan kemaren ya?"



"Iyuup.."



"Selama ini kita gak kenal, eh sekarang malah jadi tetangga."



"Makanya aku ngajak kenalan. Eh, kamu lagi sibuk ya?"



"Enggak.. Gak juga, cuman lagi baca novel aja sambil nunggu kelas yang jam 10." Deyna memperhatikan wajah Ibnu. Cakep juga nih cowo.



"Iya sama, aku juga nanti ada kelas jam 10."



Mereka pun ngobrol semakin seru untuk membuang waktu.

***************



Di suatu hari menjelang tengah malam di saat ibu telah tertidur.



Deyna duduk mulut pintu di antara lantai kamar dan kamar mandi nya. Dengan posisi tubuh menjulur ke dalam kamar mandi.



Ia menatap punggung tangan kirinya. Sementara tangan kanannya telah memegang gunting kecil. Terlihat pula kapas dan obat luka.



Setelah memejamkan mata dan mengatur nafas. Di ambil nya dulu salah satu kaosnya untuk di jadikan sumpalan di mulut.



Di dekatkan nya salah satu sisi mata gunting ke punggung tangan kirinya. Dan Deyna mulai mengiris nya dari bawah kelingking hingga mendekati jempol.



"Mmmppgghhh!!"



Nampak raut kesakitan yang membuatnya makin menggigit kaos sumpalan nya.



Sambil tetap merasa kesakitan, di tutup nya bekas luka irisan dengan kapas dan di tekan keras agar darah nya tidak keluar terlalu deras.



Nafas Deyna masih tetap menderu menahan sakit. Kesakitan yang ingin lagi di rasakan olehnya sedang di rasa olehnya. Kesakitan pada fisik yang kadang di harapkan dapat mengalahkan rasa sakit yang selama ini ada di hati dan bathin nya.



Kesunyian malam di luar sana makin terasa sunyi, menemani sosok diri yang mengharapkan sebuah kebahagiaan dengan caranya sendiri.



-----------------



"Tangan kamu kenapa?!!"



"Gak papa.. Cuman luka kecil kebeset ujung meja." Deyna menjawab pelan pertanyaan ibunya.



"Kamu masih gila kaya' biasa?!! Masih suka nyakitin diri kamu sendiri?! Apa untung nya sih untung nya!! Udah jelek, gendut terus sekarang codet-codet! Gimana ada yang mau sama kamu?!! Makin hari makin aneh aja kamu tuh!!"



Sambil menikmati sarapan nya, Deyna hanya tertunduk mendengar perkataan ibunya.



"Deyna...!!" Terdengar suara Ibnu memanggilnya dari luar rumah.



"Ehh.. Aku pergi dulu ya bu." Deyna langsung ambil tas dan buru-buru keluar menghampiri Ibnu.



"Heh!! Makan kamu tanggung ini! Jangan maen pergi aja kamu! Beresin dulu bekas makan kamu! Seenaknya aja sih kamu itu! Dasar anak kuran...."



Deyna menghiraukan ibunya dan langsung menarik Ibnu agar cepat meninggalkan rumah nya.



"Eh eh.. Aku belum pamit sama ibu kamu."



"Udah lah gak usah. Udah yuk cepetan."



Sesampai nya di kampus.



"Itu tangan kamu kenapa Dey?"



"Ini gak sengaja kebeset sudut meja. Udah gak papa kok. Entar juga sembuh."



"Aduh kamu tuh, hati-hati kek. Kan jadi nyakitin diri kamu jadinya."



"Iya iya laen kali aku hati-hati. Namanya juga kecelakaan."



"Ibnu.. Aku mau tanya dong."



"Mau tanya apa Dey, kok kayanya serius banget?



"Hah? Oh enggak kok. Aku cuman mau nanya biasa aja."



"Ya udah.. Tanya aja."



"Menurut kamu sebagai cowo. Aku sebagai perempuan, cantik gak sih?"



"Heh? Kok tumben nanya kaya' gini?"



"Gak papa, pengen tau aja. Ayo dong jawab.."



"Mmmm... Maaf ya kalo aku jujur, tapi kamu jangan marah ya."



"Gak kok, aku gak bakal marah. Janji deh."



"Okey.. Deyna.. Maaf ya, menurut aku kamu itu gak cantik." Ibnu berusaha menatap Deyna dengan dalam.



Deyna langsung terlihat kecewa mendengar pernyataan Ibnu. Dan merespon dengan suara lemah. "Oohh gitu ya. Makasih ya udah jujur sama aku."



"Kok langsung bete gitu mukanya. Kamu itu memang gak cantik. Tapi, kamu itu perempuan yang mukanya manis dan lucu buat aku." Ibnu memberikan senyuman, menggoda Deyna.



Mendengar dan melihat Ibnu, Deyna terlihat menjadi senang sekaligus bingung. "Maksud nya? Emang apa bedanya? Dan kamu lebih suka perempuan yang cantik atau manis dan lucu?"



"Semua perempuan, tinggal di kasih make up yang bener, di pakein baju bagus kaya' kebaya atau gaun apa pun terus rambut nya di gayain yang pantes, pasti bisa jadi cantik. Itu udah pasti! Tapi kamu.. Dengan gaya kamu seperti biasa nya, rambut di lepas atau di iket. Kamu itu perempuan yang manis dan lucu buat aku. Karena muka kamu emang udah dasar nya manis dan lucu. Apa lagi kalo kamu di dandanin. Kamu bukan cuman jadi cantik. Tapi cantik banget." Tatapan di sertai senyuman lembut di berikan untuk Deyna.



"Ahh.. Kamu bisa aja. Gombal banget sih kamu tuh."



"Terserah kamu mau bilang aku apa. Aku cuman ngomong apa adanya kok. Walopun kamu banyak bekas luka karena apes dan teledor nya kamu. Kamu tetep manis dan lucu buat aku."



Ibnu.. Andai kamu tahu yang sebenarnya. Dengan adanya kamu yang selalu ada untuk aku beberapa bulan ini. Kamu udah bantu aku mengurangi beban yang aku rasa selama ini. Kalau gak ada kamu, aku mungkin sudah mengakhiri hidupku.



"Iya.. Makasih ya Nu." Nampak senyum sangat bahagia pada wajah Deyna. Ia ingin sekali selalu mendengar di bilang manis dan lucu.



Dengan postur tinggi 165cm dan berat 53kg serta kulit nya yang sawo matang dan rambut pendek yang lurus. Deyna selalu merasa dia adalah sosok perempuan yang jelek dan gendut seperti yang ibunya selalu bilang padanya.



"Sama-sama Dey.."



*************



"Bu.. Udah musti bayar uang semester nih." Deyna menyerahkan kertas keterangan dari kampus nya.



Ibu yang sedang istirahat di depan TV dengan masih mengenakan pakaian kantor, langsung menatap sinis. Di rebutnya kertas itu.



Sambil membacanya, "Kamu tuh kalo ada perlunya aja, baru deh pulang sore gini! Perlunya juga gak laen urusan duit mulu! Emang kuliah kamu bener apa?! Kok kaya'nya ibu gak pernah liat kamu serius belajar! Gak bisa ya kalo gak minta duit terus?! Sampe kapan sih kamu kuliah nya, kok gak selesai-selesai?! Buruan selesain kuliah kamu, biar cepet kerja dan gak perlu minta duit lagi sama ibu!! Di kira gak cape apa ya ngempanin kamu terus. Tiap hari ada aja, beli ini lah, beli itu lah, gak abis-abis!”



Deyna hanya menarik dan menghela nafas panjang mendengar nya.



"Paling telat lusa harus sudah di bayar bu."



"Ya udah sana gak usah berisik!! Besok ibu transfer sekalian sama sangu kamu bulan ini! Udah jangan ganggu ibu, ibu lagi mau istirahat! Tadi ibu beli pizza tuh, mendingan kamu makan sana biar tetep gendut!! "



"Iya.. Makasih ya bu."



"Mmmm.."



*******************



Malam harinya.



Deyna kembali duduk di lantai pada mulut pintu kamar mandi. Telah siap gunting, kapas, obat luka dan perban seperti biasanya. Juga kaos sebagai penyumpal mulutnya.



Sayatan kali ini akan berlokasi di kaki kanan nya. Di sisi kanan antara bawah betis dan mata kaki.



Di masukan nya kaos ke dalam mulut. Di pegang gunting dengan tangan kanan dan di tempelkan nya ujung gunting ke arah yang akan di sayatnya.



Dengan sekali menarik dan menghela nafas. Langsung di tancapkan nya ujung gunting masuk ke dalam kulitnya.



"Mmmppgghhh!!!" Deyna sudah mulai terlihat kesakitan, membuka bibirnya dan terlihat semua giginya yang sedang menggigit kaos.



Ketika akan menarik gunting untuk menyayat bentuk melintang. Deyna teringat akan sesuatu.



'Kamu itu manis dan lucu. Kamu itu manis dan lucu. Kamu itu manis dan lucu. Kamu itu manis dan lucu Dey..'



Kata-kata itu terngiang di kepalanya.



Di lepasnya gunting yang masih menancap hingga terjatuh begitu saja. Dan darah pun keluar dari luka itu.



Kepala Deyna di taruh pada kedua lengan yang di letakkan di kedua lutut yang telah di tekuknya.



Sambil menangis dan sedikit memggerakan badan nya maju dan mundur, ia mengulang kata-kata yang di ingatnya.



"Aku ini manis dan lucu.. Deyna ini manis dan lucu.. Kamu itu manis dan lucu Dey.. Aku ini manis dan lucu.. Aku ini manis dan lucu.. Aku ini gak jelek. Aku ini gak gendut.. Aku ini manis dan lucu. Aku ini manis.. Gak jelek.. Aku ini lucu.. Gak gendut.. Aku ini manis dan lucu..."



Terus menerus Deyna mengulang kata-kata yang ingin di ucapkan dan di dengarnya. Sementara lantai kamar mandi sudah mulai terkotori oleh darah yang masih menetes.



Di ambil nya kembali gunting yang sudah terjatuh. Langsung ia menarik sebuah sayatan di mulai dari tempat ia menancapkan sebelumnya.



Rupanya kali ini sayatan itu agak terlalu dalam, tidak seperti biasanya.



Deyna pun tersungkur ke samping.



"Mmmmpppgggghhhh!!! Mmmppgghhh!!!Mmmmmpppppgggggghhhhh!!!" Raut wajah nya sangat kesakitan, hidung nya kembang kempis dan air mata membasahi pipinya.

Dan darah pun mengalir menggenangi lantai kamar mandi, lebih deras dari luka yang terbuka lebih dalam dan lebar dari yang sebelumnya.



Di muntahkan nya sumpalan kaos nya.



"Akuu hukk.. Maniiis hiiiss..... Akuu huukk… Luucuu hhuu......."



Sakit pada luka kulit kakinya. Sakit pada hati dan bathin nya. Dan sakit akan masih kalah nya keyakinan pada dirinya. Semua pedih itu menjadi suatu rasa sakit tiada tara yang pernah Deyna rasakan selama ini.



***************



"Dey.."



Deyna mengenal suara itu. Dia tidak menjawab dan masih tetap membaca di meja perpustakaan.



"Kamu tadi berangkat jam berapa Dey? Tadi aku ke rumah kamu, kata ibumu kamu berangkat lebih pagi gak pake sarapan dulu. Kamu kenapa Dey? Kamu gak papa?"



"Enggak aku gak papa." Sambil tetap melihat ke arah buku.



Ibnu duduk menyamping ke arah Deyna.



"Kamu kok sinis gitu sama aku? Kamu marah sama aku?"



"Enggak, biasa aja."



"Gak mungkin.. Kamu biasanya gak gini. Kenapa sih Dey? Aku ada salah ap a sih? Kasih tau dong kalo aku ada salah. Jangan di diemin kaya' gini. Aku minta maaf deh kalo aku ada salah."



"Enggak gak ada. Kamu gak ada salah apa-apa."



"Beneran??"



"Iya.."



"Kok aku gak percaya ya."



"Terserah kamu".



Ibnu berdiri dan memegang lengan Deyna.



"Yuk ikut aku yuk."



Deyna berusaha menepis tapi berhasil di pegang lagi.



"Eh, kenapa sih? Mau kemana sih?"



"Udaah.. Pokoknya ikut aku aja. Yuuuk.."



"Aduuuh... Mau kemana sihh?" Dengan terpaksa Deyna mengikuti ajakan Ibnu.



Ibnu jalan sambil menarik tangan Deyna.



"Nu.. Pelan-pelan dong jalan nya." Deyna yang berjalan agak pincang merasa tidak nyaman dengan Ibnu yang menarik untuk berjalan cepat.



"Ehh..?Kamu kenapa dey? Kok jalan nya pincang gitu?" Ibnu menghentikan langkah nya.



"Kaki kanan ku luka. Agak sakit kalo jalan biasa."



"Aduuuh.. Kamu kenapa lagi sih dey?"



"Entar aja jelasin nya. Jalan nya jangan cepet-cepet ya."



Ibnu menggandeng lengan dan berjalan bersebelahan mengiringi langkah Deyna.



Akhirnya mereka tiba dan duduk di salah satu sudut kampus yang tidak terlalu ramai.



"Sakit Dey?" Ibnu melihat Deyna yang meringis kesakitan.



"Kalo udah duduk sih gak papa. Pas kalo jalan aja, agak berasa sakitnya."



"Kamu kena apa lagi Dey?"



"Ya udah gak papa, entar aja aku ceritain nya. Sekarang, kamu ngapain ngajak aku kesini? Ada apa?"





"Gak papa.. Aku cuman pengen kita pindah kesini aja. Dan aku pengen tau kamu itu sebenernya kenapa. Kamu biasanya gak gini. Dan kaki kamu itu kenapa lagi?"



"Kan aku udah bilang aku gak papa."



"Kok aku gak percaya ya. Kemaren kaya'nya bae-bae aja. Ayo dong cerita dulu kenapa kamu jadi pincang gini."



"Hmmhhh.. Iya, semalem pas aku lagi beresin kamar.. Eehhh.. Ternyata ada gunting kecil di atas kotak kecil yang aku taro di lantai. Kaki ku jadi ke gores gunting itu."



"Terus? Kok kamu jadi pincang gitu, emang sakit banget? Padahal kan gunting nya kecil."



"Eh.. Maksudnya gunting gede kok. Aku tadinya mau pake buat gunting karton tebel buat aku jadiin agenda tempel di tembok jadi kaya mading gitu. Aku beli kemaren di toko kertas sebelum pulang. Abis makan malem aku bantu beres rumah dikit terus mandi baru deh sempet mau kerjain pas malem."



Ibnu tersenyum mendengar penjelasan Deyna.



"Coba kamu ulang semua cerita kamu di balik. Dari kamu ke gores sampe ke toko kertas."



"Maksudnya?"



"Coba kamu ulang lagi semua cerita kamu, di balik.



"Maksudnya?"



"Kalo kamu gak boong, kamu pasti bisa cerita ulang dari sebaliknya karena kamu alamin dan kamu ingat. Tapi kalo enggak, itu cuman karangan kamu aja yang kamu gak akan ingat. Dan aku cuman tanya soal gunting, tapi kamu malah cerita kemana-mana berusaha untuk mengalihkan cerita."



"Terserah kalo kamu gak percaya!" Deyna mulai terlihat kesal."



"Kenapa kamu jadi kesel? Kok jadi merengut gitu? Mukanya jangan di tekuk gitu dong. Ntar cantik ilang loh. Hehehehe..."



"Iya aku emang gak cantik!! Seperti yang kamu bilang kan?!! Iya, aku tau kok!! Aku inget!!"



"Tapi kan buat aku, kamu itu manis dan lucu."



"Kamu gak usah lagi bilang aku manis atau apa pun, kalo kenyataan nya gak kaya' gitu!! Dan lagian kamu ngapain sih bilang aku ini manis?!! Supaya apa?!! Supaya aku gak merasa jelek?!! Iya, gitu?!! Percuma!! Kamu itu masih kalah sama ibuku!!"



"Hah?" Ibnu menjadi bingung melihat Deyna yang menjadi makin emosi.



Deyna melihat Ibnu dengan kesal. Rasa bingung dan takut juga terpancar pada wajah Deyna. Nafas nya terdengar lebih cepat. Dan Ibnu hanya menatap Deyna dengan wajah heran dan kasihan.



Beberapa saat mereka saling melihat.



Ibnu memegang kedua tangan Deyna dengan kedua tangan nya.



"Dey.. Kamu itu perempuan yang manis, lucu dan sekaligus cantik buat aku. Dan gak bisa aku sangkal juga kalo aku suka sama kamu karena itu. Dan setelah beberapa lama bareng terus sama kamu, rasa suka itu sekarang berkembang.”



"Apa? Kamu bilang apa?"



"Iya Dey.. Aku baru aja bilang ke kamu kalo aku suka sama kamu."



"Tapi kamu belum tau aku banget Nu."



"Ya itu tinggal kamu kasih tau aja."



"Aku ini menyedihkan Nu. Gak seperti yang kamu kira."



"Maksudnya?"



"Aku punya prilaku yang mungkin bisa bikin kamu mikir kalo aku ini gila. Dan aku gak mau kamu jadi menjauh dari aku pas kamu tau."



"Coba aja cerita dulu."



"Tapi kamu jangan jadi jauhin aku ya. Bisa gak kamu janji dulu sama aku?"



"Iya.. Atas nama mamaku tercinta, aku janji gak akan jauhin kamu!"



"Okey.... Ibnu..... Aku ini... Sebenarnya..... Lesbian..."



"HAH?!! APA? KAMU? Beneran??!" Ibnu terperangah mendengar pernyataan Deyna.



Deyna langsung tertunduk. Setelah beberapa lama, terdengar Deyna tertawa kecil.



"Eh? Kamu boong ya?" Di angkat nya wajah Deyna dan terlihat ia tersenyum dan tertawa dengan mulut tertutup.



"Kamu harus liat muka kamu yang langsung melotot pas aku bilang tadi. Hihihihi..." Deyna tertawa kecil dan terlihat jahil.



"Astagaaaa.. Aku lagi serius mau dengerin kamu. Eh kamu malah bercanda. Dasar jail.." Ibnu ikut tertawa.



"Hihihihihi... Aku lagi menghibur diri kita. Biar gak terlalu gimana banget."



"Okey.. Terima kasih.."



Puas tertawa, Deyna mempersiapkan dirinya untuk bercerita. Di gulung nya celana kaki kanan nya. Di perlihatkan nya pada Ibnu.



"Kamu liat luka ini? Luka ini bukan karena kecelakaan. Luka ini aku yang buat."



"HAH?!! Maksud kamu apa? Kamu becanda lagi kan Dey??"



"Enggak.. Kali ini aku gak becanda." Deyna menatap luka nya dengan penuh penyesalan.



"Maksud kamu gimana sih?"



"Luka di kaki.. Luka di tangan yang sebelum nya dan bekas luka-luka lain yang ada di tangan dan kaki ku. Itu semua aku yang buat."



"Mana sih? Emang ada bekas luka lain?" Ibnu mencermati seluruh bagian kedua tangan Deyna.



Karena kulit Deyna agak gelap sawo matang. Bekas luka-luka itu walau pun banyak tapi tidak terlalu kelihatan.



"Kamu udah liat kan?"



"Astaga... Kamu.. Kenapa kamu lakuin ini Dey? Kenapa kamu nyakitin diri kamu sendiri?"



Deyna terdiam sesaat. Wajahnya terlihat berpikir, sedih dan kosong.



"Aku lakuin ini untuk mengindahkan segala rasa sakit hati dan benci ku yang sangat dalam kepada ibuku yang juga sangat aku cintai. Aku mengalihkan rasa sakit itu ke rasa sakit yang lain."



"Emang kena...."



"Aku benci banget sama ibu yang selalu menghina dan menjelek-jelekkan aku semenjak bapak meninggal. Diriku, prilaku aku, perkataan ku, perbuatan ku dan semua yang ada pada aku, gak ada satu pun yang bagus di mata dia..." Air mata mulai membasahi dan menghentikan perkataan nya.



"Pelan-pelan Dey.." Di usapnya air mata Deyna.



"Iya.. Tapi.. Walaupun aku benci. Aku juga sayang dan kasihan sama ibu. Dia seorang diri menghidupi dan membiayai kita berdua. Dia tetap bertanggung jawab menjalani kewajiban nya sebagai orang tua sepenuhnya walau pun seorang diri."



" Tapi kenapa cara ini yang kamu pilih?"



"Ini juga mencegah aku untuk mengakhiri hidupku. Dengan aku masih bisa merasa sakit, itu juga mengingatkan aku kalau aku masih hidup. Dan aku juga merasa apa yang aku rasain masih tidak sebanding dengan beban hidup yang ibu hadapi."



Kecewa, marah dan iba nya Deyna pada ibunya. Selalu membuat Deyna tidak tahu harus memilah yang harus di rasa olehnya.



"Kamu tau ada berapa semua luka kamu?"



"Termasuk dengan yang sekarang. Semuanya jadi ada 84 luka."



"84?!! Banyak banget!! Ya ampun Dey.. Udah 84 kali kamu nyakitin diri kamu sendiri?!"



"Iya.. Itulah aku.. Perempuan sakit yang sering sakit hati dan menyakiti diri ku sendiri."



"Sampe kapan kamu mau kaya' gini? Apa yang bisa membuat kamu berhenti nyakitin diri kamu sendiri?"



"Aku gak tau Nu.. Aku gak tau.."





"Apa ada yang bisa aku lakuin supaya kamu berhenti nyakitin diri kamu sendiri?"



Deyna menatap Ibnu dengan penuh harap. "Aku gak tau Nu.. Apa kamu tau?"



Ibnu terlihat geram dan berpikir keras.



....................



Agak sedikit lama Ibnu berpikir mencari jalan keluar.



"Kamu tau gak kalo aku sayang sama kamu?"



Dengan terlihat heran sekaligus senang. "Mmmm... Kalo di lihat dari prilaku kamu ke aku, aku tau. Tapi aku belum pernah di kasih tau sama kamu kalo kamu sayang sama aku. Kamu tadi baru bilang suka sama aku."



"Okey.. Sekarang aku akan bilang sama kamu tentang perasaan aku ke kamu. Deyna.. Aku bukan hanya suka sama kamu, tapi aku sayang kamu."



"Ibnu.. Aku juga sayang sama kamu."



"Loh? Aku kan belum nanya."



"Aku kan tadi juga gak nanya. Tapi kamu udah kasih tau. Aku kan juga pengen kasih tau perasaan aku ke kamu. Emang kamu doang. Ada aturan dari mana? Makasih ya nu, kamu udah sayang sama aku."



"Sama-sama Deyna. Makasih juga."



Mereka saling melihat dan memberikan senyuman satu sama lain.



"Dey... Kamu menyakiti diri kamu akibat orang yang sayang dan kamu benci. Sekarang.. Aku.. Orang yang kamu sayang dan gak kamu benci, minta kamu untuk gak lagi menyakiti diri kamu. Kamu mau kan? Buat aku dan buat kamu juga.. Mau ya Dey.."



Senang, bingung, takut serta terharu, bercampur aduk dalam diri Deyna. Dia mau tapi tidak bisa.



"Aku takut gak bisa Nu."



"Kamu pasti bisa Dey."



"Aku takut sama diri aku yang gak kuat."



"Hmmhhhhh.... Ya udah, gini aja deh."



Ibnu mengarahkan kepala nya ke luka di kaki Deyna.



"Ee eehhh.. Kamu ngapain??"



Di cium nya perban luka itu pelan-pelan.



"Aku.. Akan mencium satu persatu dari semua bekas luka di tangan dan kaki kamu setiap hari nya. Aku mau berterima kasih, karena mereka lah yang telah bantu kamu mengurangi beban sakit hati kamu selama ini. Tapi.. Sekarang itu udah jadi tugasku. Mereka gak perlu ada lagi. Kalo sampe ada lagi, berarti mereka yang lebih di butuhkan dari pada aku. Dan aku akan berhenti mencium mereka kalo ada bekas luka lagi."



"Tapi nu...."



"Gak pake tapi.. Saat nanti kamu lagi gak kuat. Kamu ingat aja, pilih aku atau sebuah luka yang nyakitin kamu."



"Kalo aku lagi gak kuat dan butuh kamu gimana?"



"Kamu bisa telpon aku kapan pun kamu mau. Aku akan selalu bantu dan dukung kamu. Nanti aku tulis di buku dan di mana pun kamu mau, aku sms kamu dan kalo kamu mau aku di videoin pake hp kamu. Aku akan bilang dan tulis, 'Ibnu sayang sama Deyna nya yang manis dan lucu'. Gimana?"



"Mudah-mudahan aku bisa ya.."



"Di coba ya Dey."



"Iya.. Aku akan coba. Buat kamu.."



"Terima kasih.. Dan buat kamu juga."



"Iya.. Buat aku juga."



"Naahh.. Gitu dong.. Sekarang.. Aku mau cium kening orang yang ku sayang dong."



"Gak ah, malu kalo ada yang lewat."



"Kan belum ada yang lewat. Makanya cepetan."



"Aku juga mau kaya' gitu ya."



Deyna menyodorkan kening nya untuk di cium oleh Ibnu. Dan sebaliknya.



"Aku seneng deh Dey."



"Iya sama, aku juga."



"Ahh.. Kamu dari tadi ikut-ikutan aja deh. Gak kreatif banget sih kamu."



"Biarin.. Yang di tiru juga seneng kan. Weeekk.."



"Hahahaha.. Iya juga sih.."



Sebuah harapan akan mampunya melawan beban sakit hati dan bathin telah hadir dalam hidup Deyna. Dan di harapkan, takkan ada lagi sakit pada fisik pada tubuhnya.



*************



Pada suatu malam lain nya.



Kali ini tidak ada gunting, kapas dan perban yang di persiapkan. Deyna telah memegang sesuatu di kedua tangan nya. Dan ia duduk di bangku depan meja rias nya.



"Ini yang terakhir.. Ini yang terakhir.."



Kaos pun di sumpalkan di mulutnya.



Rasa tegang, takut dan sedih nampak terlihat. Di sertai nafas yang terdengar lebih cepat.



Tak berapa lama..



Deyna menahan nafasnya.



"Hmpgh!!"



Tak ada erangan sunyi menahan kesakitan. Hanya kesakitan yang sangat terasa nampak terlihat dalam sesaat.



GUBRAK!!



Dan Deyna pun jatuh tersungkur di lantai. Ia tak kuat menahan sakitnya.



Keesokan paginya.



"Ini anak kemana sih! Udah jam segini masih belum keluar juga! Mau jadi apa sih nih anak!"



"Deynaaaa... Banguuun.."



Di bukanya pintu kamar Deyna.



Di lihat nya Deyna masih tertidur di lantai. Ada bercak-bercak darah terlihat di sekitarnya.



"DEYNAAAAAA!!!" Ibu pun teriak histeris.



***********************



Ruang UGD rumah sakit.



Deyna mulai tersadar. Perlahan-lahan ia membuka matanya. Di lihat nya Ibnu berada di samping tempat tidur sambil memegang tangan nya.



Ibnu berusaha memanggil namanya dan bicara padanya. Namun tidak jelas apa yang di ucapkan.



Sambil tersenyum dengan wajah yang sangat lemah.



Ibnu.. Andai kamu bisa dengar suara hatiku sekarang. Aku sekarang pasti akan selalu bahagia Nu. Karena sekarang udah ada kamu untuk aku. Dan aku gak akan merasa sakit hati lagi dan nyakitin diri ku lagi Nu. Aku gak akan dengar lagi semua caci maki dan hinaan itu Nu.. Gak akan lagi. Karena sekarang aku hanya mau dengar aku yang mau aku lihat.



Dan Deyna kembali tertidur sambil tersenyum. Ibnu yang masih berusaha bicara padanya kembali terdiam dan menatapi dengan penuh penyesalan perban yang menutupi kedua kuping Deyna.



Berkata dengan lirih..



"Dey.. Kenapa Dey.. Kenapa kamu malah lakuin ini..."



.................



"Kenapa kamu menusuk kuping kamu sendiri..."



Lelahnya Deyna sudah tak tertahankan, meski Ibnu telah hadir dan berusaha memberi cahaya dan kebahagiaan dalam kegelapan hatinya. Namun, itu hanya sekedar pemanis, bukan jalan keluar yang Deyna inginkan. Dengan apa yang di yakini sebagai solusi bagi hati nya. Kini.. Deyna takkan lagi mendengar apa pun. Ia hanya akan mendengar dengan apa yang ia mau lihat.



:)



-Dimar-.

Minggu, 25 Juli 2010

Julio dan Romiet

Romiet berhenti di depan kamar hotel itu.

402

Hanya dia seorang perempuan di sepanjang lorong depan kamar.

Dengan wajah yang ragu-ragu dan penuh berpikir, Romiet mempunyai keraguan untuk masuk ke dalam kamar itu.

Akan ada hal yang sangat besar terjadi dalam hidup nya bila dia telah berada di dalam kamar itu. Dan akan merubah diri nya dari yang selama ini.

“… I let you go.. I let you fly.. Why do I keep on asking why.. I let you go.. I let her found, the way to keep somehow.. More than a broken vow..”

“Aduuuh..” Romiet terkejut.. Ringtone handphone nya berbunyi, terdengar lagu “Broken Vow” nya Josh Groban. Dia pun jadi sibuk mencari handphone nya di tas. Saat dia sibuk mencari di dalam tas. Tiba-tiba pintu di depan nya terbuka dengan cepat.

“Cerminan hatiku?” Julio yang masih memegang handphone di kuping nya ternyata mendengar ringtone handphone Romiet dari dalam.

“Astaga!” Romiet kaget dan mundur.

“Sudah berapa lama kesendirian menemani mu?”

“Ehh.. Eee.. Ti tidak kekasihku, hanya detik yang baru berlalu. Eeee.. Aku baru mau menghampiri mu, tapi kau langsung mengusir kehampaan yang berusaha mendatangi ku.” Romiet yang masih kaget sedikit gelagapan bicara ke Julio.

“Marilah batu muliaku.. Peganglah tangan yang selalu ingin membelai mu ini.” Julio terlihat senang dan memberikan tangan nya mengajak Romiet.

Romiet hanya diam sambil mengambil tangan Julio. Dia melihat Julio yang mengenakan tuksedo yang sangat rapih. Rasa takut sedikit muncul di wajah nya. Dia merapihkan rambut samping nya ke belakang kuping. Rasa tidak nyaman sangat terasa sekali di dalam dirinya.

“Lihat lah.. Telah kubawa bagian dari istana untukmu.”

Kamar berukuran sedang itu itu di penuhi dengan helai bunga mawar merah dan putih yang tersebar banyak di lantai kamar. Sampai di tempat tidur yang berukuran cukup besar. Juga terlihat di dalam kamar mandi yang sedang terbuka.

Terdapat pula meja bulat kecil dengan dua sofa single. Di atas meja itu terdapat sebotol anggur Romanee-Conti yang belum terbuka beserta dua gelas nya.

Romiet tidak terlihat terpukau dan merasa senang dengan situasi kamar yang ada.

“Ini ku perbuat demi kau, wahai denyut nadiku. Untuk hari mulia yang bagi kita.” Julio terlihat antusias. Bangga dengan apa yang telah dia lakukan terhadap kamar itu.

Romiet yang melihat Julio yang senang antusias, berusaha mengatur nafas nya dengan baik. Perasaan yang semula tidak nyaman coba dia rubah dengan melihat ekspresi bahagia yang terlihat pada Julio. Kendati masih ada ganjalan di dalam hati dan pikiran nya.

“Kau ingin meneguk sesuatu, nafas hidupku?” Julio mendekat kan diri nya ke Romiet.

“Usah lah kau berlaku itu. Kan katakan padamu saat ku ingin.” Romiet terlihat lebih tenang. Dia berusaha menikmati apa sedang ada saat ini.

“Baiklah.. Saat rembulan terlukis di luar sana, segala sabda mu adalah titah bagiku untuk segera di wujudkan.”

“Ku merasa senang mendengar nya. Senang ku adalah bukti terima kasih ku.” Romiet terlihat mulai tersenyum.

“Kau harus merasa senang karena ku, mutiara hatiku. Untuk itulah aku di lahirkan.”

“Hatiku telah tahu itu, Julio. Hatimu telah lama memberikan yang dapat mencerahkanya.”

“Sekeping hati ini tiada pernah ragu membahagiakan mu.”

Romiet terdiam sejenak.

“Telah kah kau menggunakan hati dan nalar mu untuk apa yang hendak kita perbuat di kala gelap nya langit ini?”

“Ku telah menggunakan nya dengan segala keteguhan yang ada. Tiada keraguan seperti saat Musa harus bertanya pada Tuhan sebelum dia membelah lautan.”

“Seyakin itu kah kau Julio? Layak nya Isa yang selalu memohon pada Tuhan agar memaafkan mereka yang sedang menyiksanya?”

“Ku telah tahu angin semilirku.. Ku telah menyibak cerita jalan hidup kita saat Tuhan sedang lengah.”

“Hahahaha.. Sungguh kah? Tertulis seperti apa Julio?”

“Di situ tertulis, “Dan pada malam itu, kan Ku jadikan malam terindah bagi umatku yang mengetahuinya.” Apa kau telah mengetahui nya?”

“Terindah bagi yang mengetahuinya? Berikan padaku segala bentuk yang kau tahu.”

“Romiet.. Dahulu aku hanya lah bagian dari lautan yang luas. Tiada berarti, hanya lah sebuah bagian. Ku bergerak menjadikan diriku sebagai ombak besar tak terkalahkan yang dapat menghancurkan apa pun dan di kagumi oleh semesta. Dan kau.. Pantai putih indah nan luas, yang tenang dan menyejukkan. Kau dapat membuat ombak besar sepertiku untuk turun kembali menjadi bagian dari lautan agar menghampiri mu dan meresap di pasir putihmu.”

“Oh Julio.. Lautan ku yang indah. Hatiku tersenyum kala kau melantunkan pujian mu. Tiada kalimat indah yang dapat membalas pujian. Ku menjadi tak pandai berkata.”

“Berikan tas mu, Cintaku.” Julio mengambil tas Romiet dan menaruh nya di meja samping kasur.

Romiet merasa sangat di perlakukan spesial malam ini. Dia dapat merasakan besar nya bukti cinta Julio dengan apa yang telah dia siapkan untuknya.

“Romiet, pasangan jiwaku.. Bagaimana dengan gaun indah yang telah ku hadiah kan untuk mu. Telah kah kau membawa serta malam ini?”

“Tiada perlu kau merasa cemas Julio. Keindahan yang telah ada pada diriku malam ini, belum lah seberapa. Kiranya kau akan lebih terpesona nantinya.”

“Oh Romiet.. Tiada harapan terindah dalam hidup ku saat ini, kecuali melihat mu memakai gaun itu. Sudikah engkau memperlihatkan ku pesona dirimu?”

“Bersabarlah Julio, aku akan mengenakan nya. Kau beri aku waktu, kau keluar lah sejenak dari sini.”

“Baiklah Romiet, ku kan turuti kehendak mu. Beri tahukanlah aku bila kau telah bersiap diri.” Julio langsung keluar dari kamar itu.

Romiet langsung berganti dan mengenakan gaun indah yang telah di hadiahkan Julio untuknya.

Seselesai nya dia membuka sedikit pintu dan kembali ke tengah kamar. Julio masuk dan terpaku melihat penampilan baru Romiet. Romiet terlihat sangat anggun dan manis dengan gaun terusan selutut yang tidak terlalu membentuk tubuhnya itu.

“Bidadari mana pun akan mengurungkan niat nya untuk turun ke bumi bila dia tahu kau berpenampilan seperti sekarang ini, mata airku.”

“Kau yang membuat aku menjadi seindah matahari terbit Julio.”

“Apalah arti keindahan alam semesta ini tanpa kehadiran mu dalam kehidupan ku.”

“Aku hanya bagian kecil yang terlahir untuk mencinta dan di cinta oleh mu.”

“Romiet.. Sudikah kau memaafkan ku yang hanya dapat mempersembahkan sebuah gaun. Belum dapat ku berlaku laksana Shah Jahan yang mempersembahkan Taj Mahal untuk Arjuman Banu Begum. Kau layak mendapatkan lebih dari sebuah Taj Mahal.”

“Tiada perlu kau berlaku seperti itu. Segala ingin ku telah kau usahakan untuk terpenuhi.”

“Ku tetap meyakinkan hatiku untuk beri yang terbaik untukmu.”

“Apa gerangan yang akan berlaku sekarang?”

“Kau tidak hendak meneguk sesuatu dahulu Romiet? Atau menikmati sebuah hidangan?”

Romiet terdiam.

“Tuangkanlah Romanee-Conti yang telah kau persiapkan untuk ku.”

“Kan ku persiapkan untuk mu. Mari kita pindah ke tempat itu. Kita teguk bersama saja. ” Julio
mengajak Romiet untuk duduk di sofa kecil. Dia membuka dan menuangkan nya ke gelas untuk mereka berdua.

“Untuk malam yang tak terlupakan.. Bukan hanya untuk kita, tapi pula untuk seluruh umat manusia."

Mereka berhadap-hadapan dengan posisi kedua gelas mereka berada di antara mereka berdua.

“Salute embun pagiku..”

“Salute Julio..”

Mereka menikmati anggur itu dengan tidak lama.

“Romiet.. Ku meminta agar yang ku idamkan tiba saat nya. Sudikah kau?”

“Mmmm?? Ooohh??” Romiet terlihat sadar dan tidak senang, bahwa Julio menginginkan kemauannya untuk di mulai sekarang.

“Marilah Romiet..” Julio mengulurkan tangan nya.

“….. Baiklah Julio.” Dengan terpaksa Romiet mengambil tangan Julio.

Dengan tersenyum, Julio mengambil tangan Romiet dan menaruh nya di dadanya. Mereka pun berdiri. Julio mengajak Romiet menuju tempat tidur. Di persilahkan nya Romiet untuk rebahan terlebih dahulu di tempat tidur.

“Ku persilahkan kau terlebih dahulu. Ada yang ingin ku persiapkan. Aku akan segera berada di sisimu, serbuk bungaku.”

“Baiklah Julio.. Ku kan menanti mu.”

Julio membuka lemari pakaian yang ada di kamar hotel itu. Di situ di ambilnya dua botol minuman. Botol kaca itu kecil, hanya sebesar kepalan tangan dan isinya hanya setengah nya. Lalu Julio menghampiri Romiet dan merebahkan dirinya di sebelah kiri Romiet.

“Kau peganglah dahulu ini dengan tangan baik mu.”

“Baiklah Julio.” Romiet mengambil dan memegang botol itu dengan tangan kanan nya.

Keduanya rebahan bersebelahan di tempat tidur dengan tangan mereka yang saling bergenggaman. Kepala mereka saling berhadapan satu sama lain, dengan jarak wajah yang hanya setelapak tangan.

“Merasakan takut kah kau, gemericik air ku?”

“Tak seberapa Julio.”

“Tak mengapa Romiet. Ku yakin rasa itu tak seberapa di bandingkan dengan rasa cinta mu padaku.”

“Kau benar Julio.”

“Tahukah air apa yang kau genggam tersebut?”

“Beritahukanlah pada ku Julio.”

“Ku menyebut nya Sari Khuldi.”

“Mengapa kau menyebut nya sepeti itu?”

“Adam dan Hawa di turunkan dari Surga ke Bumi karena mereka telah memakan buah Khuldi yang di larang oleh Tuhan. Aku telah meramu ramuan dengan rasa nya yang terbaik. Yang ku yakin akan berakibat yang sebaliknya dari buah Khuldi. Ramuan ini akan membuat kita meninggalkan Bumi dan segera menuju Surga.”

“Aku mendengar mu Julio.”

“Kita akan meninggalkan hidup ini dari manusia-manusia yang sibuk terpaku dengan aturan dari leluhur mereka. Mereka sombong dengan aturan yang mereka punya demi sebuah pengakuan pada diri mereka.”

“Aku juga telah lelah Julio. Di cerca nya kita agar patuh pada aturan mereka sendiri yang telah usang. Tiada pernah mereka memandang berjenis hidup yang ada di sekitar nya. Mereka kerap merasa hanya mereka lah yang terbaik. Serta, yang lain nya di anggap tak pantas untuk bisa setara dengan mereka.”

“Kita telah lelah Romiet.”

“Benar Julio.”

“Kita akan menjadi menjadi legenda, bulan purnama ku. Agar para pecinta yang lain, dengan Tuhan yang satu, dapat di persatukan. Entah darimana dan siapa pun mereka. Kita laksana Adam dan Hawa.. Muhammad dan Siti Aisyah.. Firaun dan Cleopatra.. Serta yang lainnya. Nama kita akan selalu di sebutkan, Kau dengar aku Romiet? Apa engkau bersamaku?“

“Ku bersama mu Julio. Tiada pernah ragukan aku.”

“Maafkan yang kupertanyakan padamu, senandung hatiku.”

“Tak mengapa Julio.”

“Dapatkah kiranya kita melaksanakan nya sekarang, cahaya hidupku?”

“Apakah kiranya yang akan berlaku setelah ku meneguknya,Julio?”

“Tiada yang akan berlaku, pencerah jiwaku. Pejamkan lah matamu setelah meneguknya. Kau akan terbangun di Surga dengan aku yang tetap berada di sisi mu.”

“Baiklah Julio.”

“Mari kita pertemukan botol ini dan berucap rasa cinta kita sebelum meneguknya.”

Mereka mempertemukan kedua botol kecil itu.

“Aku cinta padamu Romiet.”

“Aku cinta padamu Julio.”

Dengan posisi masih rebahan dan bergenggaman tangan. Mereka berpaling menghadap ke atas dan meminum ramuan yang ada di botol kaca itu bersamaan.

Mereka pun memejamkan mata mereka sambil menggenggam lebih erat genggaman tangan mereka.

Nafas mereka masih terdengar. Yang lama kelamaan menjadi lebih pelan.

Dan akhirnya nafas pelan mereka pun menjadi hilang tak terdengar dan dada mereka tak lagi naik turun seperti biasanya.

Kamar itu menjadi sangat terasa sangat sepi.

………………………………………….

Kemudian…

“Hhhaahhhhhhhhh…”

Romiet menarik nafas yang sangat panjang dengan matanya terbuka terbalalak..

Romiet dari tadi mendengar dan berusaha menyamakan ritme suara nafas Julio. Dan setelah Julio tak lagi bernafas, dia ikut pula berhenti. Kini dia bernafas kembali dan dengan sangat cepat hingga akhirnya menjadi bernafas biasa kembali.

Dia langsung bangun dan segera beranjak menuju kamar mandi sambil mengambil tas nya. Di dalam kamar mandi dia langsung mengeluarkan ramuan yang masih ada di mulutnya ke wastafel.

Dia segera buka tasnya, mengambil sekotak susu berukuran tidak terlalu kecil dan langsung meminum yang tidak langsung di telan. Hanya untuk di kumur dan di keluarkan beberapa kali. Lalu memudian meminum habis sisanya.

Merasa kurang puas, di ambil nya lagi kotak susu di dalam tas nya dan langsung meminum nya sampai habis.

Dengan nafas yang terdengar cepat karena takut, Romiet berusaha menenangkan dirinya di depan kaca wastafel sambil sesekali melihat sosok nya di kaca.

Setelah beberapa lama berusaha menenangkan dirinya. Romiet melihat agak lama sosok dirinya yang telah terlihat berusaha tegar dan tenang dengan situasi dan kondisi yang sedang di hadapinya.
Dia merapihkan diri nya dan keluar dari kamar mandi. Dia berganti pakaian dengan apa yang dia pakai sebelumnya, lalu menuju tempat tidur berada persis di sisi Julio berada. Di tatap nya dengan sedih sosok Julio yang sudah kaku.

“Julio ku sayang.. Maafkan aku yang tidak mengikuti keinginan mu untuk meninggalkan hidup ini demi menunjukan amarah mu pada prilaku orang tua kita berdua. Ku telah beritahu padamu agar kita berusaha meyakinkan orang tua kita masing-masing tentang hubungan kita berdua. Namun kau sudah terlanjur menyerah dan belum berusaha sama sekali untuk bertemu dengan orang tua ku sekali pun. Entah kau yang sangat yakin bahwa orang tua kita memang tidak akan bisa berubah. Atau kau nya yang tidak terlalu mau sangat berusaha untuk meyakinkan orang tua ku.”

Romiet terdiam sebentar.

“Aku juga telah sangat membujuk mu agar tidak melakukan hal yang menyebabkan mu menjadi seperti sekarang ini. Tapi kau dengan sombong nya merasa bahwa ini adalah suatu bukti cinta kita yang tak akan terpisahkan oleh siapa pun kecuali oleh maut yang ingin kau tentukan sendiri. Dan dengan egois nya, kau menginginkan aku untuk menuruti kemauan mu tanpa mempertanyakan terlebih dahulu.”

Tak terasa air mata menetes dari matanya. Dan Romiet segera menghapus nya.

“Aku tidak mau mendahului kehendak Tuhan, Julio. Biarkanlah aku sekarang merasakan sakit hati dan sedih yang sangat dalam atas apa yang telah ku perbuat. Aku seorang perempuan yang oleh Nya akan masih banyak di berikan keindahan dalam hidup ku. Aku yakin itu Julio.”

Romiet memperlihatkan dan kemudian menyimpan gaun nya ke dalam tas.

“Aku akan menyimpan gaun ini sebagai kenangan, rasa terima kasih dan rasa syukur ku kepada mu karena pernah mencintai ku.”

Romiet mendekat dan mencium kening Julio.

“Aku cinta padamu Julio.. Namun aku lebih mencintai hidup yang masih akan ku jalani ini.”

Romiet berjalan meninggalkan Julio.

Saat baru hendak melangkah, Romiet berhenti dan memandang balik ke arah Julio.

“Dan ada satu hal lagi Julio. Terima kasih atas keras nya kau berusaha merubah aku agar berbicara dengan bahasa yang lebih baik. Namun, aku sangat capek kalau harus terus berbicara seperti seorang pujangga saat bertemu dengan mu.”

Romiet meninggalkan Julio.

“Selamat tinggal Julio.”

Romiet keluar dan menutup kamar 402.

:)

-Dimar-.

Minggu, 18 Juli 2010

Impian alam sadar


Sepasang suami istri memiliki suatu kesamaan. Mereka seringkali bermimpi, mengigau dan berjalan saat rembulan telah menghiasi malam dan semua manusia sedang dalam peraduan indahnya. Mereka berjalan entah kemana mengikuti rangkulan alam bawah sadar mereka yang sedang mereka geluti.

Hingga pada suatu ketika kedua orang itu di pertemukan secara bersamaan pada suatu tempat yang tak pernah mereka rencanakan, saat mereka sedang berjalan dalam tidur dan mimpi mereka.

“Hai kamu perempuan! Aku mengenalmu! Kau lah yang telah merenggut kebebasan hidup aku!”

“Hai kau lelaki! Jangan sesumbar kau! Kau pun tak lebih baik dari aku. Berkat kau, aku pun kini terpasung oleh mu!”

“Tiada lagi aku dapat memiliki waktu untuk diriku. Segala waktu yang seharusnya kumiliki, tiada lagi dapat seperti dulu. Aku kan menjadi usang dengan terus menerus mengurusi kau perempuan!”

“Kau pikir aku sangat menikmati sekarang ku? Lelah ku tak berkesudahan. Sosok ku tak lagi elok seindah dulu. Lihatlah diri ini! Semua akibat ulah dari mu yang hanya tahu merasakan kenikmatan dan mendapatkan keturunan.”

“Hei kau! Kau ingin pula mengidamkan agar dapat memiliki yang ada di bawah jantung mu selama 9 bulan itu. Jangan sok merasa menyesal kau. Itu memang sudah takdir mu memberikan segala keelokan tubuh mu kepada buah hati kita.”

“Andai kau tahu betapa tidak mudahnya menjalani segala kodrat ku sebagai seorang perempuan. Tidak ada seujung jarinya garis takdir mu di banding dengan hidup yang ku jalani.”

“Jangan kau kira hanya sosok kau saja yang hebat. Aku harus terus menerus mengurusi dan memikirkan mu tanpa lagi peduli pada diriku. Hanya kau lah kini prioritas ku. Ku enyahkan segala keinginan ku untuk diriku. Aku kadang benci pada diri ku yang berprilaku seperti itu.”

“Itu memang sudah mejadi kewajiban mu untuk mengurusi makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia ini. Kau mempersunting aku di hadapan Nya dengan Dia sebagai saksinya. Jangan kau anggap remeh itu!”

“Sehebat-hebatnya kau mengakui ketegaran dan kemuliaan dirimu. Tetap saja kau membutuhkan aku sebagai pelindung untuk dapat mengayomi dirimu. Usah lah kau merasa congkak seperti itu.”

“Pelindung yang pula seorang penggerutu. Tak ubahnya seperti sebuah lagu indah yang di nyanyikan dengan suara sumbang. Yang seharusnya indah menjadi tak layak di perdengarkan kan.”

“Kau bisa berkata seperti sekarang ini. Dahulu kau menikmati segala buai dan bualan yang ku persembahkan untuk dapat merebut hatimu.”

“Memang, dahulu segalanya adalah indah. Namun kini, hanya alunan hidup yang tak lagi mempunyai melodi dan rasa seperti dahulu. Tiada menarik untuk di perdengarkan.”

“Salahkan waktu yang telah merubahmu menjadi seperti sekarang ini. Tanpa bersanding dengan ku. Segala keelokkan dan kemolekkan diri mu tetap lah akan berkurang dan terkikis. Dan kau juga tak dapat memiliki pujaan hati berkat dari diri ku. Apalah artinya kau tanpa ku. Aku tetap mempertahankan nilaimu sebagai perempuan. Karena aku!”

“Tiada lah dapat kau menandingi nilai kemuliaan seorang perempuan. Itu telah di tentukan oleh Nya. Percuma kau pungkiri dan tandingi. Bila ku tanpa mu yang telah beri aku pujaan hati. Aku tetap lah makhluk Tuhan termulia. Tiada Tuhan mempercayakan menaruh ruh calon manusia pada kalian lelaki, karena di nilai tak akan mampu. Dan kalian memang terlahir untuk menjaga dan melindungi kami.”

“Tugas mu melayani hidup dan diriku hai perempuan. Kau di perharuskan melepas segala kenikmatan hidup mu. Kau tiada lagi dapat menaikkan dagumu dan menebar segala pesona mu kepada siapa pun. Aku lah yang telah memiliki semua itu sekarang ini. Kau harus berikan pada hidup ku dan buah hati kita.”

“Kau pun tak jauh beda layak nya budak bagi ku. Segala ingin dan pinta ku haruslah kau turuti. Kau harus peras peluh mu demi apa yang kukatakan bahwa ku ingin. Kalimat ku kadang sebuah sabda bagimu. Turuti kataku, segala pinta ku agar dapat jadi milik ku. Milik ku adalah milik ku dan milik mu adalah milik ku. Kau harus ingat itu!”

“Ya ya ya.. Itulah tugas seorang pemimpin. Bekerja keras demi apa yang memang harus di jaga dan di lindungi nya. Walau pun ia harus mengorbankan diri nya sendiri. Hanya lelaki yang dapat seperti itu! Hanya lelaki! Ingat lah itu wahai perempuan!”

“Seorang pemimpin tak selamanya gagah dan tegar. Di balik kuat nya ia menghadapi hidup. Ia akan tetap membutuhkan sebuah kelembutan untuk merawat diri dan menjaga keteduhan hatinya. Dan itu hanya dapat di berikan oleh seorang perempuan. Hanya perempuan! Ingat lah itu wahai lelaki”

Sekelebat cahaya pagi hari mulai membasuh wajah mereka berdua dan menjadi terjaga karena nya. Dan mereka yang terbangun menjadi terpukau dengan saling melihat diri mereka yang sedang berhadapan. Matahari seperti tahu untuk menghentikan debat mereka di dalam mimpi dan mengembalikan kembali ke alam sadar kehidupan nyata mereka yang sesungguhnya.

“Ehh..? Mamah? Sayang.. Kamu gak papa sayang?” Sang suami berkata lembut pada istrinya.

“Hah? Papa? Enggak kok, gak papa. Kamu sendiri gimana Yang?” Sang istri masih merasa heran.

“Sama kok.. Yuk kita pulang yuk Ma.” Di rangkul nya dengan lembut sang istri, sambil mengajak nya pulang.

Sang istri mengikuti melangkah bersama. “Kamu nanti mau sarapan apa sayang?”

“Terserah Mama aja deh. Papa mah kalo di masak Mama, apa aja pasti suka. Mama kan koki favorit aku.” Sang suami menggoda istrinya agar dapat memulai hari itu dengan sebuah keceriaan.

“Huhh! Gombal banget tuh..”

“Aku kan fans nya Mama.”

“Iya.. Kamu fans aku yang paling rakus!”

“Biarin.. Kamu juga seneng kan kalo aku ngabisin yang udah kamu masakin buat aku.”

“Ya pasti seneng lah.. Lagian, apa sih yang enggak buat Papa.”

“Hahahaha.. Sekarang gantian dia yang ngegombal.”

Matahari yang telah sepenuh nya nampak di ujung pinggir timur, mulai menghiasi mereka berdua serta memberi kehangatan yang sedang mereka rasakan. Di sertai kesejukan udara yang tetap menyejukkan hati mereka berdua. Dan mereka telah kembali ke kehidupan nyata yang mungkin lebih indah dari yang pernah mereka impikan.

:)

-Dimar-.

Terinspirasi oleh film ‘Inception’ karya Chistopher Nolan dan sebuah cerita pendek karya Khalil Gibran.


Kamis, 15 Juli 2010

Hanya satu di dadaku..


Malam hari, di sebuah kamar rumah sakit

Suster memasuki kamar 304. Kamar yang bisa di tempati oleh dua pasien itu kini hanya baru terisi oleh satu orang saja. Suster melihat pasien yang ingin di datangi sedang tertidur. Di dekati nya dan berusaha di bangunkan pelan-pelan.

“Mbak Trini... Mbaaak….. Mbak triiiniii….”

Trini yang sedang tertidur terbangun. Pelan-pelan dia berusaha membuka matanya dan mengenali yang membangunkan nya.

“Mmmmmmhh…”

“Mbaaak.. Ini saya, suster Dina.”

“Eeeeehh.. Suster Dina…”

Suster Dina menyambut Trini dengan senyuman saat dia sudah bisa mengenali dirinya.

“Iiiya… Ada apa sus..? Hoaeemm..”

“Sudah jam 7 mbak. Mbak kan yang minta nya supaya obat nya di kasih jam 7.”

“Hah…? Oh iya ya…. Sekarang udah jam 7 ya?”

Suster tersenyum melihat Trini yang masih belum terlalu sadar dari bangun nya.

Dengan wajah yang masih mengantuk dan alis yang berkerut, Trini melihat sekeliling nya.

“Suami saya belum datang ya sus?”

“Belum mbak, saya dari tadi belum lihat suami mbak datang.”

Trini terlihat tidak nyaman dengan hadirnya suster dan belum datangnya Dalmy suaminya.

“Bagaimana mbak? Apa bisa kita mulai sekarang?”

Trini makin terlihat merasa tidak nyaman dengan pertanyaan suster Dina.

“Mmmmmm…. Kalau misalnya tunggu sebentar lagi bisa gak sus? Suster lagi banyak pasien yang harus di urus ya?” Trini bertanya sambil berharap.

“Enggak juga sih. Kenapa? Mbak gak takut kan? Kan ini udah yang terakhir mbak.” Suster Dina berusaha menyenangkan Trini.

“Iya ini emang yang terakhir. Tapi bisa sebentar lagi kan sus?”

“Mbak mau tunggu sampai mas nya dateng ya?” Suster Dina tersenyum melihat Trini yang ekspresi panuh harap nya Trini. Dia yang sudah mengerti akan kebiasaan pasien nya.

Sambil tersenyum penuh harap, Trini mengangguk pelan.

“Iya sus.. Bisa gak tunggu sebentar lagi aja?”

“Ya udah, gak papa. Mudah-mudah gak lama ya. sambil nunggu saya cek tekanan darah nya dulu ya.”

“Iya sus.”

Suster Dina mengambil kursi dan mendekatkan pada samping kasur. Dia mulai melakukan cek tekanan darah.

Tak berapa lama.

Tok tok tok..

“Assalam mualaikum..”

“Walaikum salam..” Keduanya menjawab.

Dalmy mengetuk pintu dan langsung masuk kamar menghampiri Trini.

“Eh itu si mas nya udah dateng.”

“Halo suster, maaf ya baru sampe.”

“Halo Mas Dalmy. Itu dari tadi mbak nya udah nungguin. Belum mau di mulai kalo mas nya belum ada.”

“Hai sayang..” Trini menjulurkan tangan kanan nya sambil tersenyum senang.

Dalmy menghampiri Trini di sebelah kanan kasur mengambil tangan Trini, duduk di bangku sebelah kanan kasur dan mendekatkan dirinya pada Trini. Dia pun mencium tangan Trini yang di pegang nya.

“Hai sayang.. Maaf ya aku telat. Kamu udah lama ya nunggu nya?”

“Belum kok, belum lama banget. Kamu kok ngos-ngosan gitu yang?”

“Tadi aku lari takut kamu kelamaan nunggu.”

Melihat Dalmy yang agak berkeringat dan masih mengatur nafas nya. Trini tersenyum senang sambil menatap tajam Dalmy. Dia memegang pipi dan membelai keringat yang ada di dahi Dalmy.

“Kasyian kamu jadi keringetan giyni.”

Dalmy membalas dengan berekspresi sama.

“Gak papa sayang, sekalian olah raga dikit.”

“Bisa di mulai sekarang mbak?” Suster dani berkata pelan memecah kemesraan mereka berdua.

“Mmh? Ooohh.. Boleh sus, mulai aja. Kan tadi saya bilang nya kalau suami saya udah datang.” Trini menjadi sedikit tersadarkan bahwa suster Dina sedang menunggu.

“Saya siapin obat nya sekarang ya.”

“Iya..”

“Kamu siap sayang?” Dalmy mendekatkan kepala nya sambil kembali menatap tajam dan merasa kasihan.

“Kalau udah ada kamu.. Aku siap.” Trini berusaha sangat tersenyum sambil mengangguk, namun tetap terlihat ada rasa takut terpancar di wajah nya.

“Kita baca BISMILLAH ya.”

Trini hanya menganguk saja.

“BISMILLAHI RAHMANI RAHIM….

Mereka berdua membaca surat Al-Fatihah.

“Udah siap nih mbak. Saya mulai sekarang ya.” Selesai mereka berdoa, suster menyatakan siap memulai pengobatan.

“Iya..” Trini tidak mampu lagi berkata banyak. Dia terlihat pasrah, menarik nafas panjang dan mengeluarkan nya.

Suster mulai menekan obat di suntikan tanpa jarum yang sudah di tempel pada salah satu masukan yang ada di selang infus. Dia menekan nya sangat pelan.

Trini mulai terlihat mengernyitkan dahi nya. Dia merasakan sakit karena ada cairan obat di tekan masuk mengalir pada urat nadi nya. Tidak seperti cairan infus yang hanya menetes sangat pelan tiap tetes nya.

Melihat reaksi Trini, Dalmy berusaha memberikan dukungan dengan memegang tangan Trini lebih erat dan usapan di kepala nya yang botak plontos.

Setelah agak lama cairan obat kemoterapi itu habis sudah dalam suntikan itu.

“Sudah selesai mbak.” Suster langsung Dina membereskan perlengkapan nya.

Dengan suara agak lemah dan lirih karena masih berasa sakit, trini terdengar lemah dari suaranya.

“Iya sus, makasih ya.”

“Saya tinggal ya.”

Suster Dina pun meninggalkan kamar.

“Iya.”

“Makasih ya sus.” Dalmy yang terlihat masih merasa kasihan pada Trini berusaha sedikit memberi senyum pada suster.

Sepeninggalan suster Dina, Dalmy melepas tas slempang nya yang sejak tadi masih di pakai nya.

“Aku ganti baju sebentar ya sayang.”

“Iya.”

Selesai ganti baju, Dalmy kembali ke posisi mendekat pada Trini.

“Sudah mulai berasa sakit dan dingin belum sayang?”

“Belum, urat di tangan ku aja yang masih agak sakit.”

Mendengar itu Dalmy mengambil lengan kiri Trini dan mengelus nya pelan-pelan.

“Kamu udah makan sayang?” Dengan suara lemah nya Trini tetap berusaha memberi perhatian pada suami nya.

“Belum, ya udah lah gampang gak usah pikirin aku dulu. Aku nanti bisa makan kalo kamu udah tidur.”

“Iya.. Jangan gak makan ya.”

“Iya gundul ku sayang.” Dalmy mencium atas kepala nya Trini yang hanya ada kulit kepala tanpa ada sehelai rambut pun.

“Aku juga mau dong.”

“Kamu mau apa?”

“Aku juga mau cium kepala kamu.”

“Nih..” Dalmy mengarahkan atas kepala nya yang juga hanya ada kulit kepala tanpa ada sehelai rambut pun, untuk di cium. Di belai dan di cium nya kepala plontos Dalmy.

“Sekarang kita adu ya.”

“Iya.”

Di arahkannya kepala Dalmy untuk bersentuhan dengan kepala Trini untuk di tempel dan sedikit di dorong-dorong.

Keduanya tersenyum melakukan kebiasaan baru mereka itu.

“Gundul ketemu gundul.”

“Dua gundul yang sayang-sayangan.” Trini tersenyum melihat prilaku suaminya yang berusaha menghibur dia.

Melihat Trini sudah mulai terlihat bahagia, Dalmy pun berusaha lagi menghibur dengan cara yang lain.

Tak berapa lama..

“Yang.. Udah mulai berasa sakit dan dingin.”

Aksi Dalmy terhenti. Wajah nya yang terlihat senang langsung berubah serius dan mulai terlihat sedikit panik.

“Udah banget belum?”

“Belum sih, tapi udah mulai berasa.”

“Selimut nya mau di pakein sekarang?”

“Iya boleh.”

Dalmy mengambil selimut dakron besar dan menyelimutkan pada Trini. Walau pun sudah ada selimut dari rumah sakit. Akibat dari kemoterapi dapat menyebabkan Trini merasa kedinginan hingga sangat menggigil.

“Sayaaaang… Dingiiiiin…”

“Iya sayang, aku ada di sebelah kamu kok. Aku gak akan kemana-mana.”

Trini mulai terlihat menggigil. Dalmy memasukan tangan nya ke bawah selimut dan memegang erat tangan nya.

“Aku ada disini sayang. Aku ada disini.”

Tangan lain Dalmy memegang wajah kanan Trini dan di elus-eluskan pelan sampai ke arah atas kepala.

Tubuh Trini yang kurus dengan tulang pipi yang sangat kelihatan terlihat lemah, kesakitan dan kedinginan.

“Ini terakhir sayangku.. Ini terakhir..” Dalmy tetap memberi dukungan pada istrinya.

Trini tidak menjawab. Dia sangat menggigil dan sedang merasa tersiksa dengan racun kemotrapi yang mengalir di dalam darah di seluruh tubuh nya.

Dalmy memandang sangat sedih dan kasihan melihat apa yang sedang terjadi pada istrinya. Dia tahu.. segala ucapan, semua belaian dan semua tindakan yang akan coba dia lakukan, tidak akan bisa mengurangi sedikit pun segala rasa sakit yang sedang di rasakan oleh Trini sekarang ini. Namun dia tetap memberi dukungan apa pun yang dia bisa.

Tangan yang di pegang Dalmy terasa dingin. Dia semakin merapatkan kursi nya ke arah kasur. Di taruh kepala nya di sebelah kepala Trini menjadi setengah tidur dan tangan nya di dalam selimut jadi memeluk perut Trini.

“Aku akan selalu ada di sebelah kamu sayangku.. Kamu sakit, aku sedih. Kamu senang, aku bahagia. Kamu gundul, aku gundul.. Kamu adalah hidupku. Kamu inget itu ya sayang..”

Tatapan kosong yang lemah, rahang mulut yang terus bergetar dengan bibir yang terbuka, tangan yang gemetar berkumpul di depan dada sambil tergenggam dan juga kaki yang terlipat sehingga Trini berposisi seperti bayi di dalam rahim. Dingin.. Dingin.. Dingin.. Dan dingin beserta sakit yang sangat yang di rasakn nya sekarang ini.

“Aku ada di sini sayang..”

Trini masih saja hanya bisa menggigil, gemetaran dan kesakitan. Dia sebenarnya merasa bahagia dengan kasih sayang yang di terima oleh Dalmy. Dia ingin bisa menjawab dan berterima kasih atas segala bentuk kasih sayang yang dia terima saat ini. Tapi dirinya sedang di kuasai oleh racun kemotrapi. Tidak ada bisa dia lakukan. Dengan sangat perlahan dia memiringkan kepala nya lebih mendekat ke kepala Dalmy yang ada di sebelah nya. Dalmy menyambut, memposisikan kepala Trini jadi menempel pada lehernya dan mencium kepala Trini.

“Aku ada di sini sayang..”

Dalmy yang terlihat sedih melihat apa yang sedang di alami istrinya, hanya bisa menjadi sosok yang selalu menemani dan bisa selalu ada untuk nya. Tanpa bisa berbuat apa-apa untuk bisa mengurangi segala siksa rasa sakit yang sedang di alami Trini.

Di kamar yang sepi itu sebuah bentuk kasih sayang tercipta dan di persembahkan. Sebuah pengharapan hadir beserta rasa bahagia yang tak terkira. Besar nya suatu bentuk cinta sangat terasa dan hanya mereka berdua yang dapat merasakan apa yang mereka rasakan.

“Aku ada di sini sayang..”

Dalmy terus berkata lembut untuki terus mengingatkan Trini bahwa dia selalu ada di dekat Trini.

Mungkin tubuh Trini sedang merasa sangat kedinginan. Tapi di dalam hatinya dia merasa sangat hangat dan bahagia. Karena diri dan hatinya sangat di jaga dengan baik oleh orang yang sangat di cintai nya.

Kamar 304 itu menjadi saksi berbagai macam rasa di dalam hati yang sedang di rasakan oleh kedua pasangan tersebut.

---------------------

Siang hari, di sebuah kamar rumah sakit.

Trini sedang membaca buku La Tahzan setelah menyelesaikan makan siang nya.

“Pemisi mbak Trini..” Suster Ita datang dan masuk menghampiri Trini.

“Ehh.. Iya suster.” Konsentrasi baca nya terpecah saat suster datang. Dia menruh pembatas buku dan menutup buku yang di taruh di pahanya.

“Makan nya udah selesai ya mbak? Saya mau cek tensi sambil ngecek infuse nya aja kok. Baca nya di terusin aja mbak.”

“Iya sus.”

Setelah tak berapa lama.

“Tensi udah mendingan. Infus nya masih nanti saya gantinya. Ini bekas makan nya sekalian saya bawa ya mbak.” Suster Ita membereskan peralatan nya sambil bersiap membawa peralatan makanan.

“Iya bawa aja, saya udah selesai kok.”

“Saya permisi ya mbak.”

“Iya, makasih ya sus.”

Suster Ita meninggalkan Trini yang kembali menjadi sendiri.

Di taruh nya buku yang di baca nya di meja samping kasur. Trini mengingat kembali semua nya hingga dia bisa berada di kamar itu sekarang ini.

Beberapa bulan setelah pernikahan, mereka berdua mengetahui bahwa Trini terkena kanker pada payudara kiri nya.

Mereka pun rutin dan sibuk mengecek kesehatan Trini di rumah sakit kanker pemerintah Dharma. Di ketahui Trini terkena kanker payudara stadium 3C. Stadium yang cukup tinggi dan harus di ambil tindakan operasi kanker sekaligus mengangkat payudara kiri Trini.

Trini merasa sangat terpukul dengan kondisi kesehatan nya yang terkena penyakit yang termasuk paling di takuti semua perempuan di muka bumi ini. Dia merasa sangat sedih dan stres. Dirinya yang baru saja menikah harus menghadapi cobaan berat seperti ini.

“Walau pun nanti kamu akan di operasi dan di angkat payudara kiri nya, aku akan tetap sayang sama kamu dan menganggap kamu selalu cantik untuk ku. yang terpenting adalah, kamu sembuh.” Dalmy berusaha memberikan keyakinan dan dukungan untuk Trini yang sedang merasa terpukul.

“Aku takut yang.. Kenapa aku harus kena penyakit kaya’ gini? Salah aku apa? Kenapa gak kena penyakit yang biasa yang kecil aja? Aku takut.. takut banget.”

“Kalo kamu nanya aku kaya’ gitu, aku gak tahu harus jawab apa.”

“Aku akan kehilangan organ tubuh aku. Aku nanti nya jadi sosok perempuan yang gak sempurna. Ada bagian dari aku yang hilang mengurangi nilai diriku. Belum lagi nanti harus menghadapi kemotrapi, masukin racun ke badan ku untuk membunuh virus kanker yang bisa aja nyebar di dalam tubuh ku. Kemotrapi itu katanya menyiksa banget yang. Aku takut..”

”Mau kamu seperti apa. Mau kamu jadi bagaimana nanti. Aku akan tetap ada untuk kamu, sayangku. Gak akan ada yang berkurang dari kamu. Kamu tetap sangat bernilai untuk aku. Kamu itu yang melengkapi hidupku. Seperti apa pun kamu, aku akan selalu butuh kamu yang mengisi mengisi segala kekurangan yang ada dalam hidup aku.”

Mendengar itu Trini langsung menatap Dalmy dengan penuh perasaan haru dan senang.

“Bener…? Kamu anggep aku kaya’ gitu?”

Di pegang nya pipi kiri Trini yang mulai terasa tulang pipinya dengan tangan kanan nya dan di belai nya pelan.

“Iya lah sayang.. Kalau gak ngapain aku mau nikah sama kamu! Dasar perempuan. Sok nanya, biar bisa selalu denger kalo pasangan memang sayang dan butuh sama dia. Iya kan? Uwgh..” Belaian itu berubah menjadi cubitan kecil.

“Aduuuwh.. Biarin aja kenapa siyh. Aku kan pengen dengar kalau kamu memang sayang sama aku. ”

“Iya sayang.. Kamu boleh nanya kapan aja tentang rasa sayang ku sama kamu. Dan aku pasti akan selalu jawab aku sayang sama kamu, gimana pun kondisi kamu. Jadi jangan takut yah.”

“Iya sih.. Aku juga tahu, kalau memang lagi di hadapkan dengan situasi kaya’ gini ya di hadapin aja dan lakuin solusi nya. Mama, papa, abang dan adik.. Sahabat-sahabat aku juga jadi yang sangat baiiik banget sama aku. Mereka semua pengen aku senang. Semua nya sudah berusaha dukung aku. Aku simpen semua dukungan itu. Yang paling aku butuhin adalah dukungan dari kamu.”

“Tuh kan.. Semua orang yang sayang sama kamu, dukung kamu, mau berusaha memberikan apa pun yang terbaik buat kamu. Apa lagi sayang nya aku ke kamu. Kamu harus terus ingat itu ya.” Dalmy memberikan senyum terbaik nya.

“Iya sayang..”

Trini membalas senyuman Dalmy. Namun tetap terlihat ada rasa takut terpancar di wajah nya.

Trini yang sedang mengingat betapa besar nya dukungan dan kasih sayang yang Dalmy berikan pada dirinya, hanya bisa selalu tersenyum di kala mengingat nya.

Lalu pada satu hari sebelum operasi di mulai.

“Mbak Trini.”

“Iya suster.”

“Hari ini ada ibu Rita yang mau kemotrapi hari ini, di kasur sebelah mbak.”

“Oh ya? Kapan dateng nya sus?”

“Sebentar lagi juga sampai. Dia sudah sering datang ke sini untuk berobat.”

“Sudah sering? Maksudnya gimana sus?”

“Nanti mbak tanya aja sendiri sama orang nya. ngobrol aja sama dia, orang nya baik sekali kok.”

“Oh gitu.. Ya udah.”

“Sudah dulu ya, saya cuman menginformasikan ini aja sama mbak.”

“Iya, makasih ya sus.”

Tak berapa lama datang suster bersama seorang ibu-ibu.

“Mbak Trini, ini ibu Rita yang tadi saya ceritain.”

“Ehh.. Halo ibu Rita, saya Trini.”

“Halo mbak Trini, saya Rita.. Mbak panggil saya tante aja ya, biar lebih akrab.” Ibu Rita menyalami Trini

Trini takjub dan terperangah dengan sosok ibu Rita yang di lihat nya. Seorang perempuan paruh baya dengan umur sekitar 55 – 60 tahun. Dengan wajah yang sudah terlihat tua, dia selalu memberikan senyuman tulus nya. Yang membuat Trini takjub adalah, ibu Rita ini berkepala botak plontos. Tapi bukan itu yang membuat Trini terperangah. Dari samping atas kiri, sampai ke belakang bawah, memutar lagi ke kepala bagian atas dan kembali ke samping atas kiri kepala ibu Rita.. Terdapat susunan macam besi staples yang kira-kira hanya berjarak 5cm memenuhi alur tadi.

“Ibu mau langsung di kasur sebelah aja bu.”

“Ohh.. Iya sus.. Biarin aja, suster tinggalin aja saya. Masih dua jam lagi kan saya di kemotrapi nya? Nanti kalau ada perlu apa-apa saya panggil deh.”

“Ya udah.. Kalau begitu saya permisi dulu ya. Misi ya mbak.”

“Iya sus.”

Suster pun meninggalkan mereka berdua di kamar.

“Kalau saya duduk dulu di sini sebelah kamu boleh gak sayang?”

“Hah? Oh boleh kok tante, silahkan aja. Memangnya tante gak ingin istirahat?”

“Gak ah.. Nanti saja. Saya belum terlalu capek.” Ibu Rita menggeser kursi agar menjadi lebih dekat dari kasur.

Trini pun berusaha agak bangun dari rebahan nya.

“Eh kamu gak usah bangun, biarin aja kamu tiduran. Gak papa kok, biar saya duduk aja disini. Apa kamu mau kasur nya jadi posisi setengah duduk?”

“Eeehh.. Iya tante justru saya bangun mau rubah posisi kasur saya.”

“Sudah gak usah, kamu tiduran aja, biar tante yang atur posisi kasur kamu.” Ibu Rita langsung mengatur posisi kasur dengan memutar engkol yang ada di bawah.

“Sudah? Segini aja cukup gak?”

“Sudah cukup tante, sudah pas.”

Setelah keduanya sudah merasa pas dan nyaman dengan posisi mereka masing-masing. Mereka mulai saling bicara dan bercerita satu sama lain.

“Kamu sakit apa sayang?”

“Saya kena kanker payudara stadium 3C tante...” Trini bicara agak pelan dan sedih karena harus menyebut penyakit yang sedang di derita nya.

“Oww.. Kena yang mana?”

“Kena yang sebelah kiri tante.”

Ibu Rita memberikan senyuman kepada Trini.

“Kamu tahu.. Saya bukan ingin membandingkan. Saya juga pernah kena kanker payudara. Bukan yang kiri dan kanan, tapi dua-dua nya sekaligus. Dan keduanya sudah sukses di operasi dan diangkat. Jadi saya sudah tidak mempunyai payudara sama sekali.”

Trini memandang ke arah dada ibu Rita. Memang terlihat tidak ada tonjolan payudara sama sekali.

“Waahh.. Maaf ya tante.”

“Loh? Kenapa kamu harus minta maaf sayang? Kamu kan tidak salah apa-apa. Saya juga tidak merasa sedih dan malu dengan apa yang terjadi pada saya.”

“Saya kasihan aja sama tante. Saya aja yang cuman kena satu merasa sedih, takut dan malu. Apa lagi tante yang kena dua-duanya sekaligus.”

“Iya.. Dulu saya memang merasa marah semarah-marahnya, malu dan takut. Itu wajar kalau kita merasa seperti itu. Itu memang berarti, kita memang mencintai tubuh kita. Kita gak mau ada apa-apa sama tubuh kita. Iya kan?”

“Iya tante.”

“Apa pun yang saya rasakan waktu itu, tetap saya rasakan. Tapi bukan berarti saya gak ngapa-ngapain. Saya tetap jalanin operasi dan kemotrapi demi kesembuhan saya. Saya gak mau ada penyakit yang bersarang di tubuh saya. Saya ingin penyakit itu pergi dan lenyap dari tubuh saya. Apa pun resiko dan akibat yang harus saya terima, saya tetap jalani apa pun agar saya bisa sembuh. Bukan saya yang kalah, tapi penyakit itu yang harus musnah.”

Trini terpaku melihat ibu Rita yeng bercerita dengan semangat nya, betapa dia sangat mencintai diri dan tubuh yang di milikinya.

“Iya betul tante. Terima kasih tante atas dorongan dan semangat nya. Saya butuh itu dari siapa pun juga.”

“Dengan senang hati sayang. Tante senang bisa berbagi yang bisa membuat orang jadi terinspirasi atau ada semangat baru.”

“Tapi tante.. Kalau tante sudah sembuh, ngapain lagi tante kesini?”

“Kamu liat gak jejeran besi yang seperti staples di kepala saya?”

“Iya saya liat. Itu apa sih tante, kok kaya’ gitu?”

“Ini bekas tante habis operasi tumor otak di kepala tante.”

“HAH?! Tumor otak?!” Trini terkejut mendengar kata ibu Rita. Dan dia menyebut nama penyakit nya dengan biasa saja.

“Iya.. Pernah ada tumor kecil yang tumbuh di kepala tante ini. Stadium nya tidak terlalu besar, baru hanya stadium 1. Makanya buru-buru di operasi supaya stadiumnya tidak naik dan tante tetap hidup.”

“Ya ampun tante…”

“Iya.. Kepala tante ini di gergaji, di copot dulu, di ambil tumornya lalu di pasang kembali yang tadi di gergaji. Dan untuk tetap kuat merekat harus di bantu dengan yang seperti stapler besar ini. Hari ini tante mau kemotrapi yang kedua.”

“Astaga..”

“Saya ada cerita lucu.. Kemarin-kemarin pas saya lagi jalan di trotoar. Lalu di depan saya itu ada seperti toko tattoo dan piercing. Di depan nya itu ada sekitar tiga orang anak muda yang sedang kumpul. Pas saya lewat, tiba-tiba saya di panggil oleh anak yang badan nya bertato dan wajah nya penuh dengan tindikan yang aneh-aneh sampai kuping nya ada bulatan lebar di bawah kuping nya. Terus dia datengin saya,” Tante, maap tante. Kepala tante keren banget!! SUMPAH!! KEREN BANGET!! Tante bikin dimana tuh kaya’ gitu?” Terus saya bilang aja,”Saya bikin nya di rumah sakit Dharma.” Dia heran,”Rumah sakit? Oh disana bisa ya bikin kaya gitu? Wah asli keren banget tante. Asli! Saya baru liat. Tante oke banget jadi trend setter kaya’ gitu. Makasih ya tante, keep fungky tante. Kereeeen..” Terus ya sudah saya tinggalin dia yang kembali ke teman-teman nya yang langsung membahas kepala tante ini.” Ibu Rita terlihat sangat gembira menceritakan apa yang telah dialaminya.

“Hahahaha… Ada-ada aja ya tante.”

“Iya.. Tante sempat kegelian sendiri dengan antusias anak itu. Tapi tante terima kasih sama juga dia, karena dia tante jadi merasa di anggap keren oleh suatu kalangan.”

“Hahahaha.. Iya iya, bener tante. Tapi tante memang kelihatan percaya diri banget kok orang nya.”

“Tante cuma mencintai diri dan badan tante ini dengan semestinya. Gak ada yang perlu tante sedih kan dengan kondisi badan tante ini.”

“Padahal badan tante sudah banyak cobaan nya ya.”

“Tubuh tante ini di gemari oleh tumor dan teman-teman nya. Tante juga heran kenapa dia milih tubuh yang tua ini ya. Padahal kondisi nya sudah gak terlalu baik juga. Tapi gak masalah kok, dari pada penyakit ini kena di tubuh yang masih muda seperti kamu ini, kan kasihan.”

“Saya juga berharap tidak banyak perempuan yang terkena penyakit seperti saya. Karena saya tahu, tidak enak nya merasakan mempunyai penyakit ini.”

“Wah kamu hebat, sudah bisa berpikiran mulia seperti itu.”

“Perempuan mana sih tante, yang mau terkena penyakit kaya’ kita?”

“Maaf ya saya bukan nya mau nasihati kamu. Tapi cuman mau mengingatkan aja. Kamu jangan mau kalah dengan penyakit yang ada di diri kamu. Ini tubuh kamu. Kamu yang memiliki, kamu juga yang menentukan maunya kamu bagaimana. Tidak ada siapa pun dan apa pun kecuali Tuhan yang berhak atas tubuh kamu sendiri. Kamu terus yakinkan diri kamu agar tubuh kamu ini bisa menjadi sembuh dan hilang semua segala penyakit yang ada di dalam nya. Perintahkan tubuh kamu dengan segala keyakinan yang kamu punya dan dukungan dari orang-orang yang sayang sama kamu, agar bisa kembali pulih sehat seperti semula. Harus tetap yakin ya sayang.”

“Iya tante.. Makasih ya tante.”

“Dan juga.. Kamu jangan kekurangan percaya diri setelah operasi. Kita di latih jadi sangat kuat dan hebat untuk menghadapi ini. Perempuan kalau tidak di uji, segala kehebatan besar yang ada di dirinya tidak akan keluar. Tapi kalau sudah di uji, perempuan bisa lebih hebat dari pria dan semua makhluk hidup apa pun yang ada di muka bumi ini. Itu pun kalau perempuan nya mau dan bisa menghadapi yang sedang di alaminya.”

Trini tertegun. Dia mendapat semangat dan masukan baru yang sangat berharga. Dia merasa Tuhan telah mengirim seorang pembawa pesan yang perintah kan oleh Nya.

“Sampai segitu nya kah.”

“Iya.. Yakin saja atas kemampuan diri kamu sendiri. Jangan pernah saat kamu ragu, kamu mengucapkan sesuatu yang di awali dengan ‘Tapi..’.”

Sebuah kekaguman di tandai dengan senyum Trini yang mengembang. Pelajaran mahal yang hanya di dapat dari sebuah scenario hidup Tuhan telah di ajarkan padanya.

“Iya tante.. Saya makasih banyak atas segala yang sudah tante cerita dan bagi ke saya. Saya berterima kasih banget.”

“Sekali lagi.. Dengan senang hati sayang.”

“Assalam mualaikum..”

Walaikum salam..” Trini dan bu Rita menjawab.

Ternyata ada bu Via, mama nya Trini datang.

“Eh mama.. Ma.. Kenalin ini tante Rita.”

“Halo.. Saya Via. Mamanya Trini.” Ibu Via yang agak kaget dan takjub tetap berusaha memberikan senyuman ramah terhadap ibu Rita.

“Bu Via.. Saya Rita, saya pasien temen sekamar nya anak ibu baru hari ini.”

“Halo sayang..”

“Yang lain mana Ma?” Trini salim dengan ibunya dan saling memberi kecupan.

“Bentar lagi juga dateng kok.”

“Saya jadi menganggu ya. Saya pindah dulu ke kasur saya aja ya.” Ibu Rita ingin pindah agar bisa memberi privasi kepada mereka berdua.

Bu Via menahan bu Rita.

“Eh jangan dulu bu.. Ibu sekalian aja ikutan lihat surprise untuk Trini.”

“Hah? Surpirse? Surprise apa ma?” Trini merasa heran.

Ibu Rita yang masih di tahan untuk duduk, merasa terlihat senang bisa ikut merasakan suatu kegembiraan.

“Wah.. Senang nya, kamu bisa dapat surprise.”

“Kamu operasinya kan besok. Tapi kamu mau cukur rambut nya nanti sore kan? Ini ada kejutan buat kamu.”

“Kejutan apa sih ma? Dan apa hubungan dengan aku mau cukur nanti sore?”

“YA UDAH MASUK SEKARANG!” Ibu Via agak berteriak memanggil ke arah luar pintu kamar.

Lalu masuk lah hanya lelaki yaitu ayah, suami, kakak, adik, saudara dan sahabat nya Trini ke dalam kamar.

“YA ALLAH….” Trini sangat tertegun. Mata nya terbelalak dan dia langsung menaruh kedua telapak tangan nya menutupi mulutnya. Dan seketika itu juga air mata yang sangat bahagia mengalir deras dari matanya sambil menggeleng-gelengkan kepala nya. Dia tidak percaya dengan apa yang di lihat nya sekarang ini.

Mereka yang hadir telah menggundulkan kepala mereka hingga licin demi Trini. Orang-orang berkepala gundul yang selama ini selalu hadir dalam hidup Trini kini ada di hadapan nya. Suatu bentuk solidaritas dan bukti sayang nya mereka kepada Trini.

“ASTAGA..” Ibu Rita juga tertegun serta turut mengeluarkan air mata.

Mereka yang masih berjejer di depan Trini, mengeluarkan senyum yang sangat lebar di hadapan nya dan kemudian saling memandang satu sama lain karena merasa kejutan mereka telah berhasil.

Pak Sumal, ayah Trini yang pertama menghampirinya ke kasur.

“Halo anakku sayang.. Kita semua gak mau kalah sama kamu... Kita mau lebih dulu botak sebelum kamu.” Di peluk nya Trini yang masih menangis dan di cium nya kepala Trini.

Trini menerima pelukan sambil masih nangis sangat bahagia. Dia belum bisa berkata apa-apa. Dukungan, perhatian dan kasih sayang yang begitu besar dari orang-orang yang begitu berarti dalam hidup nya baru dia benar-benar rasakan saat ini.

Lalu gantian Dalmy menghampiri nya. Di peluk nya juga Trini. Trini kini mulai hanya tersedu-sedu.

“Hai baby.. Semua orang sayang sama kamu, sayang. Kita gak terima kalau kamu jadi trend setter di antara kami. Jadi kami yang mulai duluan dan kamu nya yang jadi ikut-ikutan kita.”

Tangis Trini yang tadi nya sudah berkurang, menjadi kembali menangis lagi. Tidak hanya Trini.. Ibu Via dan ibu Rita pun terlihat senyum yang sangat terharu di sertai dengan air mata.

Dan bergantian pun mereka yang selama telah mengisi dan memberi dukungan kebahagiaan kepada Trini.

Semua kebahagiaan yang ada di muka bumi pada hari ini, telah dimiliki oleh Trini yang terkumpul di dalam hati nya. Tidak ada siapa pun yang bisa merasakan rasa itu. Rasa yang telah mengalir melalui air mata dan ekspresi wajah yang jadi jelek karena menangis yang sangat bahagia.

-------------------------------------

Siang hari, di sebuah rumah

Trini melihat sosok nya di depan kaca. Hari itu, tepat 3 tahun yang lalu dia di operasi kanker payudara yang menyebabkan dia kini hanya memiliki satu payudara di kanan.

Dia memandang dirinya dengan sedikit sedih. Terutama saat dia memandang dirinya di daerah dada. Agak lama dia memandangnya…

Lalu dia menggerakan kedua tangan nya. Dengan telapak tangan yang melebar, dia menaruh tangan nya di dadanya. Lalu dengan perlahan dia mulai meremas tangan nya secara perlahan sambil memejamkan matanya.

Pelan... Pelan… Pelan..

Tangan kanan nya telah berhenti karena telah ada yang bisa sedikit di remas. Tapi tangan kirinya terus saja berusaha meremas sampai akhirnya tangan itu menjadi terkepal menempel di dada kirinya. Di ulang nya lagi tangan kiri untuk untuk bisa meremas sesuatu sampai berkali-kali.

Akhirnya tangan kiri itu diam tergenggam bergetar menempel di dada kiri nya. Wajah nya makin makin terlihat sedih. Sedih sekali.. Sedih mendalam yang makin terlihat di wajah nya. Tapi tiada air mata setetes pun yang mengalir dari matanya.

Trini mengambil nafas yang panjang. Lalu di keluarkan secara perlahan. Di ulangnya lagi dan di ulang, hingga dia kembali bernafas seperti biasa.

Tiba-tiba dia sedikit kaget. Ada suara yang terdengar oleh nya. Dia memandang dirinya sekali lagi. Kali ini dia bereaksi tersenyum.

Dia meninggalkan sosok dirinya di dalam kaca dan berjalan menghampiri sumber suara membuat nya merasa bahagia.

“Duwhh sayang.. Kenapa sayang.. Kok kamu nangis? Udah laper ya? Yuk nyusu sama mama yuk..”

Di angkat nya bayi kecil nya. Trini duduk dan menyusui bayi nya dengan payudara kanan nya. Sambil di ajak bicara dan sesekali bersenandung.

Di pandang nya bayi tercinta nya dengan penuh kasih sayang. Ada raut Dalmy sang suami yang sangat mencintai nya di wajah mungil itu.

“Abis ini kita telpon papa yuk.. Pasti papa pengen banget denger suara kamu.”

Dengan kondisi diri nya sekarang ini. Trini merasa telah menjadi seorang perempuan yang paling sempurna yang pernah Tuhan ciptakan.


-Dimar-.

Notes: To all woman. Please.. Take good care your body and your health. Please..

( Cerita ini fiksi belaka. Terinspirasi oleh salah satu perempuan yang sangat gua idolakan atas kuat dan tabah nya dia dalam menhadapi hidup yang dia hadapi. Dia adalah adik perempuan gua tercinta.. Love you sis’ ).