Senin, 20 September 2010

Mengiris hati dan diri

Pagi yang cerah seperti biasanya. Deyna sudah bersiap akan berangkat kuliah. "Hari ini adalah hari yang indah buat aku." Deyna berdiri di depan cermin menatap dirinya sambil meyakinkan dirinya.



Ia pun keluar kamar dan melihat ibu nya sedang di meja makan, menikmati sarapan sambil melihat isi surat-surat dan tagihan-tagihan.



"Pagi bu.."



"Mmmm." Ibunya tak menoleh sedikit pun kepadanya.



Selesai sarapan, Deyna bersiap pergi. Di hampiri ibunya untuk salim terlebih dahulu.



Saat salim, barulah ibu melihat Deyna dari atas ke bawah.



"Kamu pake baju apa itu? Kok pake jeans ketat dan baju model agak besar gitu? Gak norak tuh? Kamu kan gendut, kok pake yang ketat gitu? Paha kamu malah keliatan gede banget. Baju nya juga gak matching banget. Kamu ngerti dandan gak sih? Kalo udah gendut gak usah sok ikutan model kalo jadinya gak pantes. Itu maksa namanya. Diet dulu kalo mau gaya. Makan nya jangan bany...."



Deyna langsung jalan keluar rumah. Menghindari rasa sakit hati yang lebih dalam dari perkataan ibunya.



"Dah ibu.."



Masih terdengar ibu nya terus bicara panjang lebar.



"Eh ini anak kalo lagi di kasih tau kok malah pergi! Dasar anak kurang ajar! Kalo bukan ibu, siapa lagi yang ngas....."



Hingga suara itu hilang di telan oleh jarak.



Sambil berusaha menenangkan diri. Deyna terus jalan untuk keluar komplek.



Melewati rumah ke empat dari rumah nya, terlihat ada kesibukan memasukan perabotan rumah. Ada penghuni baru di komplek ini. Tapi ia tidak terlalu memperhatikan dan terus berjalan.



Sementara, dari dalam rumah baru itu ada sosok yang memperhatikan saat Deyna lewat.



Sore harinya. Deyna mengirim sms ke ibunya. 'Bu, ak plg agak tlat. Mau nanya n ambil bhn ujian dl ke rmh tmn ku. Pas isya ak udah plg kok.'



Setelah ada sms 'terkirim' Deyna langsung mute hp nya. Dan tak lama ada telpon masuk dari ibunya. Tapi tidak di angkat nya.



Setelah jadi missed call, Deyna tetap menatap layar hp nya dengan cemas. Tak lama ibu nya sms. 'km knp gk angkat tlp ibu! Km gk usah trs2 alesan ambil bhn ujian! Kpn km bntu urus rmh?! Emang ibu kacung km apa?!'



Segera di hapus sms itu.



Sambil memasukan ke hp ke dalam tas, Deyna melangkah masuk ke dalam SLB-B.



Keesokan harinya di perpusatakaan kampus.



Jam di perpusatakaan sudah pukul 9 pagi. Kuliah jam berapa pun Deyna selalu datang pagi dan berada di situ. Untuk menghindari segala kata-kata hinaan dari ibunya yang tak ingin di dengarnya..



"Hai.." Terdengar suara pelan menyapa nya.



Deyna melihat ke arah yang menyapa nya. Ada sosok laki-laki yang hanya dia tahu kalau orang ini satu kampus dengan nya.



"Hai.. Siapa ya?" Deyna berusaha ramah sambil bertanya.



Laki-laki itu mengulurkan tangan nya. "Saya Ibnu.. Maap kalo ganggu."



Deyna membalas dan mereka bersalaman. "Saya Deyna.. Iya gak papa."



Ibnu langsung duduk di sebelahnya. Deyna pun meninggalkan sejenak buku yang sedang di bacanya.



"Aku ngajak kenalan, karena kaya'nya sekarang kita tinggal 1 komplek. Rumahku kira-kira 3 atau 4 rumah dari rumah kamu. Kemaren pagi pas lagi pindahan, saya liat kamu lewat. Saya tau kita 1 kampus tapi belum kenal."



"Oooo.. Kamu yang baru pindahan kemaren ya?"



"Iyuup.."



"Selama ini kita gak kenal, eh sekarang malah jadi tetangga."



"Makanya aku ngajak kenalan. Eh, kamu lagi sibuk ya?"



"Enggak.. Gak juga, cuman lagi baca novel aja sambil nunggu kelas yang jam 10." Deyna memperhatikan wajah Ibnu. Cakep juga nih cowo.



"Iya sama, aku juga nanti ada kelas jam 10."



Mereka pun ngobrol semakin seru untuk membuang waktu.

***************



Di suatu hari menjelang tengah malam di saat ibu telah tertidur.



Deyna duduk mulut pintu di antara lantai kamar dan kamar mandi nya. Dengan posisi tubuh menjulur ke dalam kamar mandi.



Ia menatap punggung tangan kirinya. Sementara tangan kanannya telah memegang gunting kecil. Terlihat pula kapas dan obat luka.



Setelah memejamkan mata dan mengatur nafas. Di ambil nya dulu salah satu kaosnya untuk di jadikan sumpalan di mulut.



Di dekatkan nya salah satu sisi mata gunting ke punggung tangan kirinya. Dan Deyna mulai mengiris nya dari bawah kelingking hingga mendekati jempol.



"Mmmppgghhh!!"



Nampak raut kesakitan yang membuatnya makin menggigit kaos sumpalan nya.



Sambil tetap merasa kesakitan, di tutup nya bekas luka irisan dengan kapas dan di tekan keras agar darah nya tidak keluar terlalu deras.



Nafas Deyna masih tetap menderu menahan sakit. Kesakitan yang ingin lagi di rasakan olehnya sedang di rasa olehnya. Kesakitan pada fisik yang kadang di harapkan dapat mengalahkan rasa sakit yang selama ini ada di hati dan bathin nya.



Kesunyian malam di luar sana makin terasa sunyi, menemani sosok diri yang mengharapkan sebuah kebahagiaan dengan caranya sendiri.



-----------------



"Tangan kamu kenapa?!!"



"Gak papa.. Cuman luka kecil kebeset ujung meja." Deyna menjawab pelan pertanyaan ibunya.



"Kamu masih gila kaya' biasa?!! Masih suka nyakitin diri kamu sendiri?! Apa untung nya sih untung nya!! Udah jelek, gendut terus sekarang codet-codet! Gimana ada yang mau sama kamu?!! Makin hari makin aneh aja kamu tuh!!"



Sambil menikmati sarapan nya, Deyna hanya tertunduk mendengar perkataan ibunya.



"Deyna...!!" Terdengar suara Ibnu memanggilnya dari luar rumah.



"Ehh.. Aku pergi dulu ya bu." Deyna langsung ambil tas dan buru-buru keluar menghampiri Ibnu.



"Heh!! Makan kamu tanggung ini! Jangan maen pergi aja kamu! Beresin dulu bekas makan kamu! Seenaknya aja sih kamu itu! Dasar anak kuran...."



Deyna menghiraukan ibunya dan langsung menarik Ibnu agar cepat meninggalkan rumah nya.



"Eh eh.. Aku belum pamit sama ibu kamu."



"Udah lah gak usah. Udah yuk cepetan."



Sesampai nya di kampus.



"Itu tangan kamu kenapa Dey?"



"Ini gak sengaja kebeset sudut meja. Udah gak papa kok. Entar juga sembuh."



"Aduh kamu tuh, hati-hati kek. Kan jadi nyakitin diri kamu jadinya."



"Iya iya laen kali aku hati-hati. Namanya juga kecelakaan."



"Ibnu.. Aku mau tanya dong."



"Mau tanya apa Dey, kok kayanya serius banget?



"Hah? Oh enggak kok. Aku cuman mau nanya biasa aja."



"Ya udah.. Tanya aja."



"Menurut kamu sebagai cowo. Aku sebagai perempuan, cantik gak sih?"



"Heh? Kok tumben nanya kaya' gini?"



"Gak papa, pengen tau aja. Ayo dong jawab.."



"Mmmm... Maaf ya kalo aku jujur, tapi kamu jangan marah ya."



"Gak kok, aku gak bakal marah. Janji deh."



"Okey.. Deyna.. Maaf ya, menurut aku kamu itu gak cantik." Ibnu berusaha menatap Deyna dengan dalam.



Deyna langsung terlihat kecewa mendengar pernyataan Ibnu. Dan merespon dengan suara lemah. "Oohh gitu ya. Makasih ya udah jujur sama aku."



"Kok langsung bete gitu mukanya. Kamu itu memang gak cantik. Tapi, kamu itu perempuan yang mukanya manis dan lucu buat aku." Ibnu memberikan senyuman, menggoda Deyna.



Mendengar dan melihat Ibnu, Deyna terlihat menjadi senang sekaligus bingung. "Maksud nya? Emang apa bedanya? Dan kamu lebih suka perempuan yang cantik atau manis dan lucu?"



"Semua perempuan, tinggal di kasih make up yang bener, di pakein baju bagus kaya' kebaya atau gaun apa pun terus rambut nya di gayain yang pantes, pasti bisa jadi cantik. Itu udah pasti! Tapi kamu.. Dengan gaya kamu seperti biasa nya, rambut di lepas atau di iket. Kamu itu perempuan yang manis dan lucu buat aku. Karena muka kamu emang udah dasar nya manis dan lucu. Apa lagi kalo kamu di dandanin. Kamu bukan cuman jadi cantik. Tapi cantik banget." Tatapan di sertai senyuman lembut di berikan untuk Deyna.



"Ahh.. Kamu bisa aja. Gombal banget sih kamu tuh."



"Terserah kamu mau bilang aku apa. Aku cuman ngomong apa adanya kok. Walopun kamu banyak bekas luka karena apes dan teledor nya kamu. Kamu tetep manis dan lucu buat aku."



Ibnu.. Andai kamu tahu yang sebenarnya. Dengan adanya kamu yang selalu ada untuk aku beberapa bulan ini. Kamu udah bantu aku mengurangi beban yang aku rasa selama ini. Kalau gak ada kamu, aku mungkin sudah mengakhiri hidupku.



"Iya.. Makasih ya Nu." Nampak senyum sangat bahagia pada wajah Deyna. Ia ingin sekali selalu mendengar di bilang manis dan lucu.



Dengan postur tinggi 165cm dan berat 53kg serta kulit nya yang sawo matang dan rambut pendek yang lurus. Deyna selalu merasa dia adalah sosok perempuan yang jelek dan gendut seperti yang ibunya selalu bilang padanya.



"Sama-sama Dey.."



*************



"Bu.. Udah musti bayar uang semester nih." Deyna menyerahkan kertas keterangan dari kampus nya.



Ibu yang sedang istirahat di depan TV dengan masih mengenakan pakaian kantor, langsung menatap sinis. Di rebutnya kertas itu.



Sambil membacanya, "Kamu tuh kalo ada perlunya aja, baru deh pulang sore gini! Perlunya juga gak laen urusan duit mulu! Emang kuliah kamu bener apa?! Kok kaya'nya ibu gak pernah liat kamu serius belajar! Gak bisa ya kalo gak minta duit terus?! Sampe kapan sih kamu kuliah nya, kok gak selesai-selesai?! Buruan selesain kuliah kamu, biar cepet kerja dan gak perlu minta duit lagi sama ibu!! Di kira gak cape apa ya ngempanin kamu terus. Tiap hari ada aja, beli ini lah, beli itu lah, gak abis-abis!”



Deyna hanya menarik dan menghela nafas panjang mendengar nya.



"Paling telat lusa harus sudah di bayar bu."



"Ya udah sana gak usah berisik!! Besok ibu transfer sekalian sama sangu kamu bulan ini! Udah jangan ganggu ibu, ibu lagi mau istirahat! Tadi ibu beli pizza tuh, mendingan kamu makan sana biar tetep gendut!! "



"Iya.. Makasih ya bu."



"Mmmm.."



*******************



Malam harinya.



Deyna kembali duduk di lantai pada mulut pintu kamar mandi. Telah siap gunting, kapas, obat luka dan perban seperti biasanya. Juga kaos sebagai penyumpal mulutnya.



Sayatan kali ini akan berlokasi di kaki kanan nya. Di sisi kanan antara bawah betis dan mata kaki.



Di masukan nya kaos ke dalam mulut. Di pegang gunting dengan tangan kanan dan di tempelkan nya ujung gunting ke arah yang akan di sayatnya.



Dengan sekali menarik dan menghela nafas. Langsung di tancapkan nya ujung gunting masuk ke dalam kulitnya.



"Mmmppgghhh!!!" Deyna sudah mulai terlihat kesakitan, membuka bibirnya dan terlihat semua giginya yang sedang menggigit kaos.



Ketika akan menarik gunting untuk menyayat bentuk melintang. Deyna teringat akan sesuatu.



'Kamu itu manis dan lucu. Kamu itu manis dan lucu. Kamu itu manis dan lucu. Kamu itu manis dan lucu Dey..'



Kata-kata itu terngiang di kepalanya.



Di lepasnya gunting yang masih menancap hingga terjatuh begitu saja. Dan darah pun keluar dari luka itu.



Kepala Deyna di taruh pada kedua lengan yang di letakkan di kedua lutut yang telah di tekuknya.



Sambil menangis dan sedikit memggerakan badan nya maju dan mundur, ia mengulang kata-kata yang di ingatnya.



"Aku ini manis dan lucu.. Deyna ini manis dan lucu.. Kamu itu manis dan lucu Dey.. Aku ini manis dan lucu.. Aku ini manis dan lucu.. Aku ini gak jelek. Aku ini gak gendut.. Aku ini manis dan lucu. Aku ini manis.. Gak jelek.. Aku ini lucu.. Gak gendut.. Aku ini manis dan lucu..."



Terus menerus Deyna mengulang kata-kata yang ingin di ucapkan dan di dengarnya. Sementara lantai kamar mandi sudah mulai terkotori oleh darah yang masih menetes.



Di ambil nya kembali gunting yang sudah terjatuh. Langsung ia menarik sebuah sayatan di mulai dari tempat ia menancapkan sebelumnya.



Rupanya kali ini sayatan itu agak terlalu dalam, tidak seperti biasanya.



Deyna pun tersungkur ke samping.



"Mmmmpppgggghhhh!!! Mmmppgghhh!!!Mmmmmpppppgggggghhhhh!!!" Raut wajah nya sangat kesakitan, hidung nya kembang kempis dan air mata membasahi pipinya.

Dan darah pun mengalir menggenangi lantai kamar mandi, lebih deras dari luka yang terbuka lebih dalam dan lebar dari yang sebelumnya.



Di muntahkan nya sumpalan kaos nya.



"Akuu hukk.. Maniiis hiiiss..... Akuu huukk… Luucuu hhuu......."



Sakit pada luka kulit kakinya. Sakit pada hati dan bathin nya. Dan sakit akan masih kalah nya keyakinan pada dirinya. Semua pedih itu menjadi suatu rasa sakit tiada tara yang pernah Deyna rasakan selama ini.



***************



"Dey.."



Deyna mengenal suara itu. Dia tidak menjawab dan masih tetap membaca di meja perpustakaan.



"Kamu tadi berangkat jam berapa Dey? Tadi aku ke rumah kamu, kata ibumu kamu berangkat lebih pagi gak pake sarapan dulu. Kamu kenapa Dey? Kamu gak papa?"



"Enggak aku gak papa." Sambil tetap melihat ke arah buku.



Ibnu duduk menyamping ke arah Deyna.



"Kamu kok sinis gitu sama aku? Kamu marah sama aku?"



"Enggak, biasa aja."



"Gak mungkin.. Kamu biasanya gak gini. Kenapa sih Dey? Aku ada salah ap a sih? Kasih tau dong kalo aku ada salah. Jangan di diemin kaya' gini. Aku minta maaf deh kalo aku ada salah."



"Enggak gak ada. Kamu gak ada salah apa-apa."



"Beneran??"



"Iya.."



"Kok aku gak percaya ya."



"Terserah kamu".



Ibnu berdiri dan memegang lengan Deyna.



"Yuk ikut aku yuk."



Deyna berusaha menepis tapi berhasil di pegang lagi.



"Eh, kenapa sih? Mau kemana sih?"



"Udaah.. Pokoknya ikut aku aja. Yuuuk.."



"Aduuuh... Mau kemana sihh?" Dengan terpaksa Deyna mengikuti ajakan Ibnu.



Ibnu jalan sambil menarik tangan Deyna.



"Nu.. Pelan-pelan dong jalan nya." Deyna yang berjalan agak pincang merasa tidak nyaman dengan Ibnu yang menarik untuk berjalan cepat.



"Ehh..?Kamu kenapa dey? Kok jalan nya pincang gitu?" Ibnu menghentikan langkah nya.



"Kaki kanan ku luka. Agak sakit kalo jalan biasa."



"Aduuuh.. Kamu kenapa lagi sih dey?"



"Entar aja jelasin nya. Jalan nya jangan cepet-cepet ya."



Ibnu menggandeng lengan dan berjalan bersebelahan mengiringi langkah Deyna.



Akhirnya mereka tiba dan duduk di salah satu sudut kampus yang tidak terlalu ramai.



"Sakit Dey?" Ibnu melihat Deyna yang meringis kesakitan.



"Kalo udah duduk sih gak papa. Pas kalo jalan aja, agak berasa sakitnya."



"Kamu kena apa lagi Dey?"



"Ya udah gak papa, entar aja aku ceritain nya. Sekarang, kamu ngapain ngajak aku kesini? Ada apa?"





"Gak papa.. Aku cuman pengen kita pindah kesini aja. Dan aku pengen tau kamu itu sebenernya kenapa. Kamu biasanya gak gini. Dan kaki kamu itu kenapa lagi?"



"Kan aku udah bilang aku gak papa."



"Kok aku gak percaya ya. Kemaren kaya'nya bae-bae aja. Ayo dong cerita dulu kenapa kamu jadi pincang gini."



"Hmmhhh.. Iya, semalem pas aku lagi beresin kamar.. Eehhh.. Ternyata ada gunting kecil di atas kotak kecil yang aku taro di lantai. Kaki ku jadi ke gores gunting itu."



"Terus? Kok kamu jadi pincang gitu, emang sakit banget? Padahal kan gunting nya kecil."



"Eh.. Maksudnya gunting gede kok. Aku tadinya mau pake buat gunting karton tebel buat aku jadiin agenda tempel di tembok jadi kaya mading gitu. Aku beli kemaren di toko kertas sebelum pulang. Abis makan malem aku bantu beres rumah dikit terus mandi baru deh sempet mau kerjain pas malem."



Ibnu tersenyum mendengar penjelasan Deyna.



"Coba kamu ulang semua cerita kamu di balik. Dari kamu ke gores sampe ke toko kertas."



"Maksudnya?"



"Coba kamu ulang lagi semua cerita kamu, di balik.



"Maksudnya?"



"Kalo kamu gak boong, kamu pasti bisa cerita ulang dari sebaliknya karena kamu alamin dan kamu ingat. Tapi kalo enggak, itu cuman karangan kamu aja yang kamu gak akan ingat. Dan aku cuman tanya soal gunting, tapi kamu malah cerita kemana-mana berusaha untuk mengalihkan cerita."



"Terserah kalo kamu gak percaya!" Deyna mulai terlihat kesal."



"Kenapa kamu jadi kesel? Kok jadi merengut gitu? Mukanya jangan di tekuk gitu dong. Ntar cantik ilang loh. Hehehehe..."



"Iya aku emang gak cantik!! Seperti yang kamu bilang kan?!! Iya, aku tau kok!! Aku inget!!"



"Tapi kan buat aku, kamu itu manis dan lucu."



"Kamu gak usah lagi bilang aku manis atau apa pun, kalo kenyataan nya gak kaya' gitu!! Dan lagian kamu ngapain sih bilang aku ini manis?!! Supaya apa?!! Supaya aku gak merasa jelek?!! Iya, gitu?!! Percuma!! Kamu itu masih kalah sama ibuku!!"



"Hah?" Ibnu menjadi bingung melihat Deyna yang menjadi makin emosi.



Deyna melihat Ibnu dengan kesal. Rasa bingung dan takut juga terpancar pada wajah Deyna. Nafas nya terdengar lebih cepat. Dan Ibnu hanya menatap Deyna dengan wajah heran dan kasihan.



Beberapa saat mereka saling melihat.



Ibnu memegang kedua tangan Deyna dengan kedua tangan nya.



"Dey.. Kamu itu perempuan yang manis, lucu dan sekaligus cantik buat aku. Dan gak bisa aku sangkal juga kalo aku suka sama kamu karena itu. Dan setelah beberapa lama bareng terus sama kamu, rasa suka itu sekarang berkembang.”



"Apa? Kamu bilang apa?"



"Iya Dey.. Aku baru aja bilang ke kamu kalo aku suka sama kamu."



"Tapi kamu belum tau aku banget Nu."



"Ya itu tinggal kamu kasih tau aja."



"Aku ini menyedihkan Nu. Gak seperti yang kamu kira."



"Maksudnya?"



"Aku punya prilaku yang mungkin bisa bikin kamu mikir kalo aku ini gila. Dan aku gak mau kamu jadi menjauh dari aku pas kamu tau."



"Coba aja cerita dulu."



"Tapi kamu jangan jadi jauhin aku ya. Bisa gak kamu janji dulu sama aku?"



"Iya.. Atas nama mamaku tercinta, aku janji gak akan jauhin kamu!"



"Okey.... Ibnu..... Aku ini... Sebenarnya..... Lesbian..."



"HAH?!! APA? KAMU? Beneran??!" Ibnu terperangah mendengar pernyataan Deyna.



Deyna langsung tertunduk. Setelah beberapa lama, terdengar Deyna tertawa kecil.



"Eh? Kamu boong ya?" Di angkat nya wajah Deyna dan terlihat ia tersenyum dan tertawa dengan mulut tertutup.



"Kamu harus liat muka kamu yang langsung melotot pas aku bilang tadi. Hihihihi..." Deyna tertawa kecil dan terlihat jahil.



"Astagaaaa.. Aku lagi serius mau dengerin kamu. Eh kamu malah bercanda. Dasar jail.." Ibnu ikut tertawa.



"Hihihihihi... Aku lagi menghibur diri kita. Biar gak terlalu gimana banget."



"Okey.. Terima kasih.."



Puas tertawa, Deyna mempersiapkan dirinya untuk bercerita. Di gulung nya celana kaki kanan nya. Di perlihatkan nya pada Ibnu.



"Kamu liat luka ini? Luka ini bukan karena kecelakaan. Luka ini aku yang buat."



"HAH?!! Maksud kamu apa? Kamu becanda lagi kan Dey??"



"Enggak.. Kali ini aku gak becanda." Deyna menatap luka nya dengan penuh penyesalan.



"Maksud kamu gimana sih?"



"Luka di kaki.. Luka di tangan yang sebelum nya dan bekas luka-luka lain yang ada di tangan dan kaki ku. Itu semua aku yang buat."



"Mana sih? Emang ada bekas luka lain?" Ibnu mencermati seluruh bagian kedua tangan Deyna.



Karena kulit Deyna agak gelap sawo matang. Bekas luka-luka itu walau pun banyak tapi tidak terlalu kelihatan.



"Kamu udah liat kan?"



"Astaga... Kamu.. Kenapa kamu lakuin ini Dey? Kenapa kamu nyakitin diri kamu sendiri?"



Deyna terdiam sesaat. Wajahnya terlihat berpikir, sedih dan kosong.



"Aku lakuin ini untuk mengindahkan segala rasa sakit hati dan benci ku yang sangat dalam kepada ibuku yang juga sangat aku cintai. Aku mengalihkan rasa sakit itu ke rasa sakit yang lain."



"Emang kena...."



"Aku benci banget sama ibu yang selalu menghina dan menjelek-jelekkan aku semenjak bapak meninggal. Diriku, prilaku aku, perkataan ku, perbuatan ku dan semua yang ada pada aku, gak ada satu pun yang bagus di mata dia..." Air mata mulai membasahi dan menghentikan perkataan nya.



"Pelan-pelan Dey.." Di usapnya air mata Deyna.



"Iya.. Tapi.. Walaupun aku benci. Aku juga sayang dan kasihan sama ibu. Dia seorang diri menghidupi dan membiayai kita berdua. Dia tetap bertanggung jawab menjalani kewajiban nya sebagai orang tua sepenuhnya walau pun seorang diri."



" Tapi kenapa cara ini yang kamu pilih?"



"Ini juga mencegah aku untuk mengakhiri hidupku. Dengan aku masih bisa merasa sakit, itu juga mengingatkan aku kalau aku masih hidup. Dan aku juga merasa apa yang aku rasain masih tidak sebanding dengan beban hidup yang ibu hadapi."



Kecewa, marah dan iba nya Deyna pada ibunya. Selalu membuat Deyna tidak tahu harus memilah yang harus di rasa olehnya.



"Kamu tau ada berapa semua luka kamu?"



"Termasuk dengan yang sekarang. Semuanya jadi ada 84 luka."



"84?!! Banyak banget!! Ya ampun Dey.. Udah 84 kali kamu nyakitin diri kamu sendiri?!"



"Iya.. Itulah aku.. Perempuan sakit yang sering sakit hati dan menyakiti diri ku sendiri."



"Sampe kapan kamu mau kaya' gini? Apa yang bisa membuat kamu berhenti nyakitin diri kamu sendiri?"



"Aku gak tau Nu.. Aku gak tau.."





"Apa ada yang bisa aku lakuin supaya kamu berhenti nyakitin diri kamu sendiri?"



Deyna menatap Ibnu dengan penuh harap. "Aku gak tau Nu.. Apa kamu tau?"



Ibnu terlihat geram dan berpikir keras.



....................



Agak sedikit lama Ibnu berpikir mencari jalan keluar.



"Kamu tau gak kalo aku sayang sama kamu?"



Dengan terlihat heran sekaligus senang. "Mmmm... Kalo di lihat dari prilaku kamu ke aku, aku tau. Tapi aku belum pernah di kasih tau sama kamu kalo kamu sayang sama aku. Kamu tadi baru bilang suka sama aku."



"Okey.. Sekarang aku akan bilang sama kamu tentang perasaan aku ke kamu. Deyna.. Aku bukan hanya suka sama kamu, tapi aku sayang kamu."



"Ibnu.. Aku juga sayang sama kamu."



"Loh? Aku kan belum nanya."



"Aku kan tadi juga gak nanya. Tapi kamu udah kasih tau. Aku kan juga pengen kasih tau perasaan aku ke kamu. Emang kamu doang. Ada aturan dari mana? Makasih ya nu, kamu udah sayang sama aku."



"Sama-sama Deyna. Makasih juga."



Mereka saling melihat dan memberikan senyuman satu sama lain.



"Dey... Kamu menyakiti diri kamu akibat orang yang sayang dan kamu benci. Sekarang.. Aku.. Orang yang kamu sayang dan gak kamu benci, minta kamu untuk gak lagi menyakiti diri kamu. Kamu mau kan? Buat aku dan buat kamu juga.. Mau ya Dey.."



Senang, bingung, takut serta terharu, bercampur aduk dalam diri Deyna. Dia mau tapi tidak bisa.



"Aku takut gak bisa Nu."



"Kamu pasti bisa Dey."



"Aku takut sama diri aku yang gak kuat."



"Hmmhhhhh.... Ya udah, gini aja deh."



Ibnu mengarahkan kepala nya ke luka di kaki Deyna.



"Ee eehhh.. Kamu ngapain??"



Di cium nya perban luka itu pelan-pelan.



"Aku.. Akan mencium satu persatu dari semua bekas luka di tangan dan kaki kamu setiap hari nya. Aku mau berterima kasih, karena mereka lah yang telah bantu kamu mengurangi beban sakit hati kamu selama ini. Tapi.. Sekarang itu udah jadi tugasku. Mereka gak perlu ada lagi. Kalo sampe ada lagi, berarti mereka yang lebih di butuhkan dari pada aku. Dan aku akan berhenti mencium mereka kalo ada bekas luka lagi."



"Tapi nu...."



"Gak pake tapi.. Saat nanti kamu lagi gak kuat. Kamu ingat aja, pilih aku atau sebuah luka yang nyakitin kamu."



"Kalo aku lagi gak kuat dan butuh kamu gimana?"



"Kamu bisa telpon aku kapan pun kamu mau. Aku akan selalu bantu dan dukung kamu. Nanti aku tulis di buku dan di mana pun kamu mau, aku sms kamu dan kalo kamu mau aku di videoin pake hp kamu. Aku akan bilang dan tulis, 'Ibnu sayang sama Deyna nya yang manis dan lucu'. Gimana?"



"Mudah-mudahan aku bisa ya.."



"Di coba ya Dey."



"Iya.. Aku akan coba. Buat kamu.."



"Terima kasih.. Dan buat kamu juga."



"Iya.. Buat aku juga."



"Naahh.. Gitu dong.. Sekarang.. Aku mau cium kening orang yang ku sayang dong."



"Gak ah, malu kalo ada yang lewat."



"Kan belum ada yang lewat. Makanya cepetan."



"Aku juga mau kaya' gitu ya."



Deyna menyodorkan kening nya untuk di cium oleh Ibnu. Dan sebaliknya.



"Aku seneng deh Dey."



"Iya sama, aku juga."



"Ahh.. Kamu dari tadi ikut-ikutan aja deh. Gak kreatif banget sih kamu."



"Biarin.. Yang di tiru juga seneng kan. Weeekk.."



"Hahahaha.. Iya juga sih.."



Sebuah harapan akan mampunya melawan beban sakit hati dan bathin telah hadir dalam hidup Deyna. Dan di harapkan, takkan ada lagi sakit pada fisik pada tubuhnya.



*************



Pada suatu malam lain nya.



Kali ini tidak ada gunting, kapas dan perban yang di persiapkan. Deyna telah memegang sesuatu di kedua tangan nya. Dan ia duduk di bangku depan meja rias nya.



"Ini yang terakhir.. Ini yang terakhir.."



Kaos pun di sumpalkan di mulutnya.



Rasa tegang, takut dan sedih nampak terlihat. Di sertai nafas yang terdengar lebih cepat.



Tak berapa lama..



Deyna menahan nafasnya.



"Hmpgh!!"



Tak ada erangan sunyi menahan kesakitan. Hanya kesakitan yang sangat terasa nampak terlihat dalam sesaat.



GUBRAK!!



Dan Deyna pun jatuh tersungkur di lantai. Ia tak kuat menahan sakitnya.



Keesokan paginya.



"Ini anak kemana sih! Udah jam segini masih belum keluar juga! Mau jadi apa sih nih anak!"



"Deynaaaa... Banguuun.."



Di bukanya pintu kamar Deyna.



Di lihat nya Deyna masih tertidur di lantai. Ada bercak-bercak darah terlihat di sekitarnya.



"DEYNAAAAAA!!!" Ibu pun teriak histeris.



***********************



Ruang UGD rumah sakit.



Deyna mulai tersadar. Perlahan-lahan ia membuka matanya. Di lihat nya Ibnu berada di samping tempat tidur sambil memegang tangan nya.



Ibnu berusaha memanggil namanya dan bicara padanya. Namun tidak jelas apa yang di ucapkan.



Sambil tersenyum dengan wajah yang sangat lemah.



Ibnu.. Andai kamu bisa dengar suara hatiku sekarang. Aku sekarang pasti akan selalu bahagia Nu. Karena sekarang udah ada kamu untuk aku. Dan aku gak akan merasa sakit hati lagi dan nyakitin diri ku lagi Nu. Aku gak akan dengar lagi semua caci maki dan hinaan itu Nu.. Gak akan lagi. Karena sekarang aku hanya mau dengar aku yang mau aku lihat.



Dan Deyna kembali tertidur sambil tersenyum. Ibnu yang masih berusaha bicara padanya kembali terdiam dan menatapi dengan penuh penyesalan perban yang menutupi kedua kuping Deyna.



Berkata dengan lirih..



"Dey.. Kenapa Dey.. Kenapa kamu malah lakuin ini..."



.................



"Kenapa kamu menusuk kuping kamu sendiri..."



Lelahnya Deyna sudah tak tertahankan, meski Ibnu telah hadir dan berusaha memberi cahaya dan kebahagiaan dalam kegelapan hatinya. Namun, itu hanya sekedar pemanis, bukan jalan keluar yang Deyna inginkan. Dengan apa yang di yakini sebagai solusi bagi hati nya. Kini.. Deyna takkan lagi mendengar apa pun. Ia hanya akan mendengar dengan apa yang ia mau lihat.



:)



-Dimar-.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar