Kirana memasuki mobil. Sebuah perjalanan menuju ke awal yang mendebarkan. Di temani oleh ibu tercinta. Ah, aku bukan seperti diri aku hari ini. Jantung nya terasa berdenyut lain hari ini, tidak seperti biasa. Terasa lebih cepat seperti saat ia merasakan suatu hal yang tidak biasa dalam hidup. Entah hal yang menyenangkan mau pun tidak baginya. Di dalam mobil, banyak ragam cerita kehidupan hadir seketika dalam benak.
“Bu.. Mbak.. Sudah siap? Mau jalan sekarang?”
Pertanyaan sederhana yang juga memberitahukan dan mempertanyakan diri serta hati. Raganya sedang tak mampu berbuat banyak. Otak yang biasa membuat nya tahu harus berkata, kini sedang sibuk dengan segala kenangan hidup yang hadir. Beruntung ia masih sanggup menoleh, mengangguk dan tersenyum.
“Sudah pak, ayo kita mulai jalan.” Ibu mewakili keinginan ku.
“Baik bu..”
Laju mobil yang mulai terasa kencang membuat degup turut mengiringi Kirana. Rasa bahagia sempat nampak sekejap dan tergantikan oleh ketidaktahuan akan rasa lain yang juga terasa. Aku senang, aku bahagia dan aku juga takut. Tenang Kirana, ini sebuah perjalanan kecil, akan ada perjalanan yang lebih besar yang harus di lalui. Ia diam seperti juga yang lainnya. Kebisuan seperti menguasai diri mereka. Hanya sunyi senyap yang dapat terdengar.
Kirana berusaha menikmati pemandangan yang di lalui oleh mobil yang membawanya. Ia, diri dan hati nya sedang menuju ke suatu tempat yang mereka inginkan. Lalu nampaklah sebuah mall. Tempat ia biasa meluangkan diri untuk menghabiskan rasa, waktu, uang serta kebahagiaan. Ahh.. aku akan tetap mengunjungi mall tercinta ku ini. Namun saat aku akan kesana, aku bukanlah lagi diriku yang seperti biasa.
Ada banyak kenangan, ada beberapa kencan, ada kekecewaan yang pernah Kirana lalui di dalam gedung yang tidak terlalu banyak berubah sejak ia pertama kali kesana saat masih SMP. Takkan terlupakan, saat ia bertemu dengan ibunya sebelum jam makan siang, saat ia dan teman-teman memutuskan untuk tidak sekolah. Yang akhirnya ia di bawa pulang dan di hukum tidak boleh pergi jalan-jalan selama dua minggu.
Mobil melewati sebuah daerah perumahan yang cukup besar di daerah selatan Jakarta. Haduuh, kenapa harus lewat sini sih? Kirana menunggu untuk melihat nama sebuah jalan yang akan di lalui. Ia agak sedikit menengok ketika jalan itu telah lewat. Sebuah jalan yang beberapa kali ia masuki untuk dapat bertemu dengan seseorang yang pernah ia cintai waktu itu.
“Gua gak mau pacaran sama Dery lagi Tik!! Gua gak mau!!”
“Hah?! Lu kenapa Na? Kok tiba-tiba kaya’ gini?!” Mutik yang saat itu sedang asyik membaca di kamar, terkejut melihat Kirana yang langsung masuk ke dalam kamarnya.
“Pokoknya gua gak mau!! Gua hampir di perkosa sama dia! Untung nyokap nya pulang. Gua langsung cabut kesini!! Pelukan sahabatnya sambil menangis memaksa Mutik untuk menyingkirkan bacaan nya.
Maaf ya Dery, aku seorang perempuan yang sangat menghormati kesucian diri ku yang akan ku persembahkan kepada seseorang yang mau bersumpah menjadi pendamping ku dengan Tuhan sebagai saksinya. Segala bujuk rayu mu, tidak akan mampu membuat kau mencicipi tubuh ku ini sedikit pun. Dan kau makin memaksa aku dengan cara yang sangat memuakkan. Terhina lah kau Dery. Semoga Tuhan mengampuni mu, karena aku tidak akan pernah dapat mengampuni mu.
Dari yang masih tersisa tersenyum mengenang mall tercinta. Kini raut wajah Kirana nampak sedikit geram yang begitu mendalam. Make up yang sangat tebal itu makin membuatnya merasa tidak nyaman saat ia mengernyitkan kedua alis di dahinya.
Mobil terhenti, bukan di lampu merah. Ternyata cukup agak lama. Rupanya di depan ada banyak orang baru keluar dari tempat ibadah suatu Agama. Aku pernah masuk ke dalam tempat ibadah yang ini, bukan untuk ibadah. Karena Agama ku lain dengan mereka yang beribadah di tempat ini. Kirana tidak terlalu lama memandangi tempat ibadah itu saat ia lewati.
Hatinya pernah merasa nyaman saat ia beberapa kali masuk ke tempat ibadah itu. Ia tidak telah menjadi penganut Agama di tempat itu. Tapi karena ada seseorang yang benar-benar sangat menyentuh dan menjaga hati serta dirinya di suatu kala. Ia hanya masuk ke situ tidak pernah lama, hanya masuk sebentar menemani orang itu untuk suatu keperluan dan juga bukan untuk beribadah.
Suatu rasa dan sosok yang sangat ia idamkan telah dimilikinya saat itu. Namun itu hanya lah sebuah contoh yang Tuhan perlihatkan, bahwa masih ada sosok pria yang sesuai dengan kemauan dan idaman nya. Sosok itu hanya di jadikan sebagai penyembuh luka terdalam nya atas apa yang pernah di alami sebelumnya. Dan karena kecintaan nya yang lebih besar kepada Tuhan nya, Kirana memilih untuk meninggalkan sosok yang juga memiliki rasa yang sama terhadap Tuhan nya dia.
Ibu yang berada di sebelah juga tidak terlalu banyak bicara. Mungkin ibun juga merasa gelisah sama seperti yang Kirana sedang rasakan sekarang ini. Hanya beda dengan apa yang anaknya sedang rasakan. Ibu nya terlihat sedikit termangu. Dia sedang memikirkan almarhum suami nya. Ada rasa kecewa, suaminya tidak dapat mendampingi di saat yang sangat di nanti seperti ini. Tangan nya menghampiri dan memegang tangan anak satu-satunya. Kirana membalas memegang serta menoleh ke arah ibu sambil sangat tersenyum.
Sebentar lagi mobil akan melalui tempat Kirana bekerja. Kantor sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang mengurusi jasa hukum. Belum berapa lama Kirana bekerja di tempat itu. Ia memutuskan untuk pindah dari tempat kerjanya yang lama karena faktor lebih dekat dengan rumah dan kisah lain yang hanya di ketahui oleh ia dan Mutik.
Atasan nya yang hanya lebih senior dan bukan salah satu pemilik perusahaan itu, mengajak Kirana untuk makan siang bersama karena ada urusan kantor yang harus di bahas berdua. Mereka membahas tentang urusan kantor selesai menyantap makan siang.
“Kirana, kamu mau gak jadi pacar saya?” Tiba-tiba atasan nya bertanya hal yang tak biasa.
Kirana langsung terperanjat mendengar pertanyaan atasan nya itu. Atasan nya memang masih dapat di bilang muda. Dia telah menjadikan dirinya sebagai orang yang sukses untuk orang seumuran nya. Dasar nya dia cukup tampan di sokong pula dengan gaya trendi dan mobil mewah hasil jerih payah nya itu. Dapat di bilang sebagai sosok pria idaman banyak wanita. Dan pria itu kini mengajukan pertanyaan yang ingin sekali di dengar banyak wanita. Rasa bangga dan senang sangat di rasakan di dalam hati Kirana dalam seketika. Ia ingin sekali dapat selalu merasakan apa yang sedang rasa saat itu. Namun rasa yang memabukkan itu dapat di kalahkan oleh suatu nalar yang ia tahu. Ia pun juga merasa terhina.
“Bapak.. Bukan nya sudah menikah? Maksud bapak bagaimana?” Sambil menahan geram Kirana berusaha berkata baik.
“Memang.. Tapi saya sudah mau menceraikan istri saya. Sebelum itu saya mau mempersiapkan diri mencari pengganti nya. Bagaimana? Apa kamu mau? Atau mungkin saya terlalu cepat bertanya seperti ini?”
Gemuruh berdegup di dalam dada Kirana. Hasutan yang terdengar indah sekaligus menyesatkan ini dapat membuat orang menjadi tidak memakai akal. Dan Kirana menjadi tersesat dalam segala bentuk pemikiran dari segala sudut pandang. Sebuah teori simalakama ia jadikan teori di dalam menghadapi hal ini.
“Kenapa pak? Kenapa istri bapak mau di ceraikan, kalau saya boleh tahu?”
“Sudah dua tahun menikah dia tidak dapat memberi saya keturunan. Dia mau untuk adopsi, saya tidak mau. Dari pada terlalu lama, saya mau ceraikan saja dia secepatnya. Kasihan dia juga kalau saya ceraikan dia setelah lama, betul bukan?” Atasan nya menceritakan seperti sedang cerita hal sepele yang tidak penting. Tatapan nya seperti sedang merabai seluruh bagian tubuh Kirana.
Astaga!! Ternyata ada manusia seperti ini?! Atas nama ciptaan Tuhan yang paling mulia. Aku membuang simalakama dan mengenyah kan segala pikiran serta harapan baik ku terhadap nya. Bagaimana bila aku yang menjadi istrinya? Istrinya tetaplah seorang perempuan mulia yang punya hati dan layak untuk di cintai, meski tidak dapat memberikan keturunan.
Muaknya Kirana terbentuk hanya terkepal nya kedua tangan nya di bawah meja, yang seharusnya bisa menjadi sebuah tamparan keras yang sangat telak di wajah atasan nya itu. Namun hal itu urung ia lakukan. Dan memilih meninggalkan nya.
“Saya sudah punya tunangan dan kami akan menikah. Maaf pak, saya permisi.”
Kini di dalam mobil Kirana melamunkan nasib istri bekas atasan nya yang malang itu. Ia berharap perempuan itu akan di beri kebahagiaan yang terbaik oleh Tuhan. Entah apa pun caranya. Mudah-mudahan Tuhan tidak memberikan aku beban seperti itu, Amien. Kirana tanpa sadar membelai wajahnya dengan kedua telapak tangan nya. Ibunya yang tangan nya di lepaskan dari genggamannya, melihat dan hanya tersenyum yang di lakukan anaknya tanpa mau bertanya ada apa.
Akhirnya Kirana melihat sebuah toko buku ternama yang di lintasi. Kali ini ia tersenyum sangat bahagia. Ia tahu akan melewati dan telah menanti untuk melihat gedung itu sebelum sampai di tempat tujuan. Di antara semua tempat, diantara semua pecinta buku yang datang, mereka berdua ternyata harus di pertemukan dengan cara sederhana yang tak pernah terbayangkan olehnya. Di situ pernah muncul sebuah pertanyaan kecil untuknya tentang sebuah buku yang sedang di baca sebelum di belinya. Sebuah pertanyaan sebagai awal pembuka yang nantinya dapat memberikan sebuah jawaban tentang hidup Kirana. Dan seterusnya menjadi terasa begitu menarik bagi hati, diri, dan hidupnya.
“Kita sudah mau sampai bu.. Mbak..”
Perkataan supir memecahkan konsentrasi mereka berdua. Mereka berusaha melongok jauh ke depan melihat tempat tujuan yang sudah nampak terlihat.
“Sini nak, coba ibu lihat.” Ibu nya mendekati dan meneliti dengan seksama tampilan wajah Kirana. Dan Kirana hanya diam dengan sedikit mendekati ibunya. Setelahnya ibu mulai meneliti dan membenahi keseluruhan penampilan nya sendiri. "Anak ku cantik sekali.." Sambil tersenyum.
Ah ibu.. Hanya engkaulah yang selalu membuat aku merasa sebagai seorang perempuan yang paling cantik di dunia ini. Ia menatap ibu nya dengan terharu bahagia.
Mobil yang di tumpangi Kirana dan ibu nya memasuki sebuah bangunan yang di ikuti oleh mobil-mobil lain yang dari tadi mengiringinya.
Ya Tuhan.. Dengan kehendak Mu yang mulia dan keyakinan ku padaMu. Aku memohon padaMu untuk memudahkan pernikahan ku dengan yang telah Engkau tunjukkan padaku. Segala yang baik dan kurang telah Engkau tempatkan pada sosok yang Engkau tentukan. Ku berserah diri terhadap kebahagiaan ku kepada Mu, ya Tuhan. Amin.
Kini hanya ada rasa dan senyum cemerlang yang ada di dalam diri Kirana saat ia menuruni mobil.
:)
-Dimar-.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar